(Westlife,
Moment)
Misa bernyanyi
meski dengan suara yang apa adanya. Hiro mengiringinya dengan suara gitar
akustiknya, sedangkan Citra, Seikei, dan Agni mendengarkan mereka sembari ikut
berdendang. Persahabatan itu mungkin bukan yang sempurna, tapi dihati mereka,
tak ada yang seindah apa yang mereka alami. Duduk dan menghabiskan waktu
bersama diatas rumah pohon, dikelilingi pohon apel yang sedang berbuah. Tentu
saja mereka terlihat seperti anak-anak lain yang bahagia.
“Hiro, nadanya
terlalu tinggi!” Misa menegur Hiro dan kembali mengulang nyanyiannya.
“aku rasa sudah
cukup, tapi baiklah.” Hiro kembali memulai dengan nada yang sedikit rendah
sesuai permintaan Misa.
Kali ini Citra ikut benyanyi. Suaraya terdengar lebih tinggi
daripada suara Misa. Meski begitu, harmonisasi keduanya terdengar indah. Benyanyi
sembari tersenyum. Itulah yang membuat hari-hari mereka indah.
“aku akan
pulang mengambil camilan!” Agni bangkit dan turun dari rumah pohon buatan
ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 9. Kebun apel itu milik ayahnya.
Disana hanya ada pohon apel, kecuali satu pohon mangga yang sekarang menjadi
tempat rumah pohon itu berdiri. Tempat itu menjadi saksi persahabatan mereka
selama hampir 5 tahun ini.
Misa seorang
anak yang apa adanya. Ia sangat mencintai sahabat-sahabatnya itu. Terlahir
sebagai yang paling muda diantara mereka, tidak membuatnya menjadi lebih
kekanak-kanakan. Ia justru menjadi yang paling bersikap dewasa. Hiro dan Seikei
adalah saudara kembar. Meski begitu, tak ada kemiripan diantara mereka, kecuali
tingkat kepandaian yang diatas rata-rata sahabat-sahabatnya itu. Sedangkan
Citra adalah gadis lembut yang pemalu. Tapi ia adalah sosok yang kuat diantara
mereka. Dan Agni anak yang sangat lucu dan mudah membuat semua orang tertawa
dengan berbagi leluconnya. Persahabatan mereka telah berlangsung selama 14 tahun,
yaitu sejak mereka dilahirkan. Para orang tua mereka merupakan teman yang cukup
baik.
“Agni tunggu,
apa sebaiknya aku ikut denganmu?” Seikei berteriak memanggil Agni yang belum
jauh berjalan dibawah rumah pohon. Agni melambaikan tangan meminta Seikei turun
dan pergi bersamanya.
“aku akan
menemani Agni pulang, jangan macam-macam dengan laptopku, Hiro!” Seikei
memperingati Hiro yang memang senang sekali memeriksa isi Laptop Seikei.
“siap Bos!”
Hiro menjawab sembari tersenyum nakal.
“aku akan
menjaganya untukmu Zee!” ucap Citra memanggil Seikei dengan panggilan masa
kecilnya sembari meraih Laptop Seikei dan mengubahnya menjadi mode Sleep.
“thank you
Cii!” Seikei turun dan berlari menghampiri Agni.
Sementara Agni dan Seikei mengambil camilan, Hiro dan Misa
berusaha mengambil laptop Seikei dari Citra. Hal itu membuat Citra kewalahan
menghadapi kedua sahabatnya yang memang terkenal dengan sikap jahilnya itu.
“Misa, Hiro,
ayolah jangan seperti ini!” Citra memeluk Laptop Seikei dan menjauhkannya dari
kedua sahabatnya itu. “kalian kan sudah janji tak akan menyantuhnya! Zee akan
marah besar nanti!” Citra kembali memohon. Tapi kedua sahabatnya terus saja
menggodanya.
“Cii, kau
terlalu baik pada Zee! Kau menyukainya?” Hiro menggodanya membuat pipi Citra
terlihat sedikit memerah.
“Cii, kau benar
menyukai Zee?” Misa ikut menggoda Citra saat melihatnya tersipu malu.
“ayolah jangan
menggodaku terus, teman-teman.” Citra semakin malu dan bingung harus mengatakan
apa.
“baiklah! Tapi
berikan Laptop Zee padaku! Sebentar saja!” Hiro kembali mencari celah untuk
dapat melihat isi Laptop saudaranya itu. Citra akhirnya mengalah dan memberikan
Laptop itu pada Hiro.
“kembalikan
saat aku meminta!” dia memperingati Hiro.
Tanpa basa-basi, Hiro membuka Laptop Seikei dan mencari
sesuatu. Ia tersenyum saat menemukan apa yang dicarinya. Misa ikut melihat dan
terlihat terkejut. Keduanya saling menatap. Mereka sama terkejutnya. Mereka tak
menyangka jika dugaan mereka berdua selama ini benar.
“aku tak salah
lihat kan,?” Misa berguman pada Hiro, membuat Citra ikut penasaran dengan apa
yang dilihat keduanya itu.
“kurasa tidak!
Aku tau dia pasti menyukainya juga.” Hiro meyakinkan apa yang dilihat mereka.
Keduanya lantas menatap Citra sembari tersenyum. Membuat Citra semakin
penasaran.
“apa yang
kalian lihat! Sudah kembalikan Laptop Zee!” Citra lalu mengambil Laptop itu
dari Hiro dan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Wajah terkejut Citra bahkan
lebih parah dari Misa. Ia tak menyangka dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba
hatinya diselimuti kebahagian. Ia tak menyangka Seikei juga menyukainya. Lebih
dari sahabat.
“Misa, Hiro,
jangan beritahu Zee aku melihat ini!” Ia menunjuk foto-fotonya yang disimpan
Zee di Laptopnya dengan folder bernama My Love. Hanya ada fotonya disana,
terpisah dari foto yang lain.
“kami juga
berpikir begitu! Tapi kami tidak janji tak akan mengolok-olok kalian setelah
ini.” Hiro tak juga berhenti menggoda Citra. Misa hanya tersenyum menimpali.
Seminggu telah
lewat sejak kejadian dirumah pohon itu. Hiro dan Misa terus menerus menggoda
Citra dan Seikei, yang membuat keduanya akhirnya mengakui perasaan
masing-masing. Agni yang terakhir mengetahui hal itu, sangat kesal dengan Hiro
dan Misa yang tak memberitahunya terlebih dahulu. Namun mereka semua bahagia
atas hubungan baru Seikei dan Citra.
“Hiro Ikeuchi!”
guru matematika memanggil Hiro dan memintanya menjawab soal persamaan
Trigonometri matematika di papan tulis. Hiro yang sangat menyukai pelajaran
Matematika dengan semangat maju dan menyelesaikan soal dalam waktu tak lebih
dari 5 menit.
“terima kasih,
Hiro. Kau menjawabnya dengan benar.” Guru matematika itu memberinya pujian atas
apa yang telah dilakukannya untuk yang kesekian kalinya.
“jika kalian
mengalami kesulitan, kalian bisa bertanya pada Hiro. Hiro Bapak mohon bantuanmu
untuk membantu teman-temanmu nanti.” Pak Gery meminta pada Hiro yang di jawab
dengan anggukan pasti dari Hiro.
“hai Master
Math, kurasa kau akan sibuk hari ini!” Misa dan Agni menemui Hiro yang sedang
asik membaca komic barunya di teras depan rumahnya.
“jangan
sekarang, kalian tak lihat aku sedang sibuk!” Hiro beranjak meninggalkan mereka
berdua dan masuk ke kamarnya. Misa dan Agni saling melihat lalu ikut masuk ke
kamar Hiro.
“ayolah, kau
tau nilai matematika kami sangat menyedihkan!” Agni memohon pada Hiro.
“kau sudah
berjanji pada Pak Gery! Tepati itu Mr. Math!” Misa merebut komic yang dibaca
Hiro dan menyimpan komic itu di tasnya. Hiro berusaha merebutnya, tapi tak
berhasil. Ia justru tersungkur jatuh ke lantai. Agni dan Misa mennertawakan
tingkah Hiro, membuatnya tak punya pilihan lain selain mengajari kedua
sahabatnya itu.
“sebaiknya
kerjakan soal itu di rumah pohon! Seikei akan mengganggu jika kita disini!”
Hiro mulai serius dan mengambil beberapa buku lalu memasukkannya kedalam tas.
Kedua sahabatnya mengikutinya berjalan menuju markas besar mereka, HomeTree.
Sebulan lagi
Ujian Nasional akan berlangsung. Mereka berlima sudah mempersiapkan Ujian itu
dengan cukup baik. Mereka siap dengan soal-soal yang akan mereka hadapi. Semua
tak sabar untuk segera menjadi siswa dan siswi SMU. Dan saat ujian berlangsung,
maka mereka mengerjakan soal dengan hati-hati dan serius. Mereka berjuang untuk
mendapatkan nilai yang memuaskan. Terutama Seikei dan Hiro. Keduanya berjuang
memperoleh nilai tertinggi. Karena ayah mereka berjanji, jika nilai mereka
adalah yang tertinggi, maka mereka akan mendapatkan liburan di Tokyo. Tentu
saja mereka bersemangat. Hampir setahun ini ayah mereka tak mengunjungi mereka
di Indonesia.
Hari penentuan
kelulusan. Hati siswa-siswi SMP itu tak sabar ingin mengetahui hasil perjuangan
mereka selama ini. Hiro menatap Misa yang telah melihat hasi pengumuman di
papan pengumuman sekolah. Sementara itu Seikei berteriak kegirangan melihat
namanya tertulis sebagai siswa dengan nilai peringkat kedua disekolah. Nilainya
mendekati sempurna. Citra dan Agni juga telah melihat nilai masing-masing, dan
cukup membuat mereka puas.
“Misa, ayolah
katakan! Jangan menggodaku dengan tatapan itu!” Hiro memaksa Misa mengatakan
hasil yang dilihatnya.
“Hiro, aku
minta maaf,,tapi..”Misa tak melanjutkan kata-katanya. Hiro terlihat lemas. Dia
yakin lulus, namun melihat ekspresi Misa, ia yakin, nilainya tak seperti yang
diharapkan.
“hey, kenapa
kau lemas!” Misa menegur Hiro dan memegang pundaknya. “aku belum selesai!”
lanjutnya membuat Hiro kembali menatapnya kesal.
“Hah, kau
menang kali ini,Hiro!” Seikei mendekati Hiro dan merangkul pundaknya dari
samping. Hiro terkejut. Ia tau nilainya pastilah lebih tinggi dari Seikei. Misa
kali ini berhasil menggodanya.
“Kau peringkat
pertama Hiro!” Agni memberitahu Hiro dan memberinya selamat. Hiro kegirangan.
Ia memeluk Seikei dan Agni bergantian.
“akhirnya, aku
bisa bertemu ayah!” Ia berteriak kegirangan kemudian memeluk Misa.
“kenapa
menggodaku? Kau ini sangat menyebalkan!” ia berkata sembari menunjukan ekspresi
kesal, namun kembali memeluk Misa. “Arigatou, Misa-chan!” lanjutnya, Misa balas
memeluk sahabat terdekatnya itu. Ia juga merasakan kebahagian Hiro. Dihatinya
sekarang, kebahagian Hirolah yang telah meliputi hatinya, bukan kebahagiaannya,
karena ia memang tak bahagia.
“kau kenapa
Misa?” Citra menyadari perasaan sedih Misa saat dirumah pohon. Sore itu mereka
merayakan kelulusan di tempat biasa.
“kau lulus
dengan nilai lebih tinggi dariku dan Agni, kenapa kau sedih?” Citra mendekati
Misa. Yang lainnya mulai menyadari sikap Misa yang sedikit aneh.
“aku harus
pindah! Aku tidak bisa bersama kalian lagi mulai sekarang.” Misa mulai
menitikkan air mata. Citra merangkulnya. Setelah Misa tenang, ia menceritakan
apa yang terjadi. Ia harus ikut kedua orang tuanya pindah keluar kota. Ia tak
mungkin tinggal bersama mereka lagi. Mendengar hal itu, Citra ikut menangis.
Suasana hening. Bahkan Hiro tak bicara apapun.
“Hey, kita
masih bisa bertemu, teman-teman!” Agni memecah keheningan. Hiro tersenyum pada
Misa dan menggenggam kedua telapak tangannya.
“kita akan
bersama, disini!” kata Hiro mendekatkan tangan mereka yang saling menggenggam
ke dadanya. “kita terhubung disini! Kita akan bersama selamanya, meski bukan
ditempat ini!” lanjutnya masih meletakkan kedua tangannya di dadanya. Misa
terharu dan memeluk Hiro.
“terima kasih.
Kalian adalah sesuatu yang paling berharga yang aku miliki!” Misa melepaskan
pelukannya dan menatap satu persatu sahabatnya.
“Agni, aku
ingin kau selalu bahagia! Jangan bersedih,Oke?!” Misa meletakkan tangannya di
pundak Agni. Agni tersenyum pada Misa dan mengangguk.
“Cii,
bertahanlah menghadapi ketiga laki-laki aneh ini! tolong jaga mereka untukku.”
Misa memeluk Citra, sementara Citra menangis mendengar kata-kata Misa. Misa
lalu mendekati Seikei dan bersiap mengucapkan sesuatu. Tapi Seikei meletakkan
telunjuknya di bibir Misa.
“Jangan
berpesan apapun padaku! Aku tidak akan melakukan apapun untukmu! Persahabatan
ini milik kita, meski tak bersama! Jadi bertanggung jawablah terhadap
Persahabatan ini, meskipun kau jauh!” Seikei bicara panjang lebar, membuat Misa
tersenyum. Bagi Misa, Seikei adalah sahabat yang sempurna. Tak ada orang lain
yang akan menggantikan posisi Seikei dihatinya.
“eumm! Aku akan
melakukannya, Bos!” canda Misa menghapus air matanya yang menetes.
Hiro tiba-tiba memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya
dipundak Misa. Misa menggenggam tangan Hiro dan meletakkan di lehernya. Baik
Agni, Citra dan Seikei teharu melihat kedekatan dua sahabatnya itu. Sedari
kecil Misa dan Hiro memang tak bisa dipisahkan. Pernah suatu kali, Hiro pergi
mengunjungi ayahnya di Tokyo, dan Misa jatuh sakit karena merindukan sahabatnya
itu. Padahal Hiro hanya pergi seminggu. Dan sekarang Misa akan berpisah dengan
Hiro untuk waktu yang tak tentu. Mereka yakin, hati keduanya merasa kehilangan.
Mereka meninggalkan Hiro dan Misa di rumah pohon sendirian. Sementara posisi
Hiro dan Misa tak berubah hampir selama 15 menit.
“secepat itu
ya?” Hiro bergumam.
“maaf, tapi aku
terpaksa ikut, Mama melarangku tinggal sendiri disini.”
“kapan kau
pergi?”
“tiga hari
lagi, maaf aku dulu memintamu tak meninggalkanku terlalu lama, tapi justru aku
yang melakukannya.” Misa mendekatkan wajahnya ke kepala Hiro yang masih
dipundaknya.
“ingat
meneponku, bila perlu setiap hari!” Hiro meminta Misa dengan sedikit paksaan.
Misa mengangguk mengiyakan. Hiro melepaskan pelukannya dan pindah duduk
menghadap Misa.
“lihat aku!”
Misa melakukan apa yang Hiro minta. Ia berusaha menahan air matanya tak keluar.
“apapun yang
terjadi, tetaplah menjadi Misa yang kukenal. Jangan mengkhawatirkan aku, aku
akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi padaku, jangan tinggalkan sesuatu yang
sedang kau lakukan! Aku akan sangat marah padamu jika kau lakukan itu!” Hiro
menggenggam pundak Misa, sembari memaksakan senyumannya keluar. Ia berusaha
terlihat kuat dihadapan Misa, meskipun hatinya enggan berpisah dari sahabat
kecilnya itu. Ia melihat setetes air mata jatuh dari mata Misa. Hiro
menghapusnya dan mencium kedua mata sahabat yang sangat disayanginya itu. Misa
menangis dipelukkannya. Hiro pun tak tahan untuk tak menangis, dan air matanya
jatuh.
Sudah hampir
setengah tahun Misa berpisah dengan keempat sahabat kecilnya. Meski ingin
bertemu, namun ia belum juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi
sahabat-sahabatnya. Meski begitu, sesuai janjinya, ia menelpon Hiro hampir
setiap hari, meski hanya untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan sahabat
yang dikaguminya itu.
“aku peringkat
pertama di sekolah!” kata Hiro suatu sore saat Misa menelponya. Suaranya
terdengar senang.
“seperti
dugaanku, kau memang yang terbaik!” Misa ikut senang mendengar berita itu.
Mereka berdua berbincang-bincang cukup lama. Hingga Hiro meminta Misa benyanyi
unutuknya. Ia sendiri akan mengiringi dengan gitar, seperti yang sering mereka
lakukan dulu.
A moment in
time, is all that’s given you and me,/ A moment in time, and it’s something you
should seize,/ so I won’t make the mistake of letting go,/ everyday you’re
here, I’m gonna let you know,/ that every moment, we share together,/ Is even
better, than the moment before,/ If every day was, as good as today was, /Than
I can wait ‘till tomorrow comes,/ each morning that i get up,/ I love You more
than ever,/ So friend I’ll never go away, never stray...,/ I love love love the
moment,/ moments me share together,/ I pray they’d last forever, now!
(Westlife,
Moment)
Kebahagiaan keduanya memang bukanlah kebahagiaan yang
sempurna. Namun orang lain tak memiliki kebahagiaan seperti yang dirasakan Misa
dan Hiro. Persahabatan yang indah, kepercayaan akan tiadanya pengkhiantan dalam
persahabatan mereka. Menciptakan sebuah kisah yang tiada akhir di hati mereka.
Cinta keduanya tak akan mampu terpisahkan meski waktu akan berakhir.
Tapi, bahagia akan
hadirnya sahabat di dunia ini, bukanlah satu hal yang bisa berlangsung selama
yang diharapkan Misa. Malam itu hatinya tak tenang. Ia mengerjakan soal-soal
Kimia untuk olimpiade yang akan berlangsung esok harinya dengan perasaan
gundah. Perasaan kehilangan tiba-tiba saja dirasakannya. Misa mencoba lebih
berkonsentrasi dengan buku dihadapannya, namun gagal.
“apa sebaiknya
aku menelpon Hiro saja, ya?” ia bicara pada dirinya sendiri. Misa mencoba
menelpon Hiro namun tak seorangpun mengangkat telponnya. Misa akhirnya
memutuskan untuk tidur.
Sementara itu, Hiro terbaring tak berdaya di kamar operasi.
Sementara Seikei pingsan di kamar perawatan yang lain. Kedua orang tua mereka
menunggu dengan tak sabar. Yuki, kakak perempuan Hiro dan Seikei menunggui Seikei,
sementara orang tua mereka, menunggu hasil operasi Hiro. Dua jam, tiga jam, dan
empat jam kemudian, operasi selesai. Seorang dokter perempuan keluar dari ruang
operasi sembari membuka sarung tangan dan maskernya.
“bagaimana anak
itu, dokter? Apa dia baik-baik saja?” ayah Hiro bertanya dengan sedikit panik.
“keadaannya
masih kritis, sebaiknya kita bicara di ruangan saya, Pak.” Dokter itu mengajak
ayah dan ibu Hiro bicara diruangannya.
Diruang perawatan, Seikei mulai sadar dari pingsannya. Yuki
menemaninya dengan cemas. Ia tak hanya mencemaskan Seikei, tapi ia juga ingin
segera tau keadaan Hiro.
“onee-chan,
bagaimana Hiro?” Seikei bertanya dengan lemah.
“entahlah, mama
dan papa belum memberitahuku! Sebaiknya kita tunggu saja!”
“sebenarnya apa
yang terjadi,Zee?” Yuki bertanya pada Seikei sembari membantunya duduk.
“saat nenek
memintaku membeli lilin, aku memaksa Hiro ikut, dan..” Seikei menghetikan
kata-katanya.
“apa?”
“dan mobil itu
datang, aku terpental tapi Hiro ada di tengah jalan berlumuran darah, setelah
itu aku tak tau!” Seikei terdengar sedih. Air matanya bahkan menetes di
pipinya.
“aku tak akan
memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Hiro!” katanya tertunduk. Keadaan
kembali hening.
Tiga hari kemudian Hiro sadar dari koma. Namun kondisinya
sangat lemah. Terlebih lagi, ia sangat terpukul dengan keadaannya yang cacat.
Ia harus merelakan tangan kirinya untuk di amputasi. Sejak sadar, Hiro tak
bicara dengan siapapun. Ia menjadi sangat pendiam. Dia sangat membenci dirinya
yang sekarang.
“aku tidak bisa
bermain gitar lagi!” gumamnya pada diri sendiri.
Seikei berusaha menghibur Hiro, tapi gagal. Citra dan Agni pun
tak tau harus berbuat apa.
“aku akan
memberitahui Misa!” kata Seikei saat mereka berumpul di ruang perawatan Hiro.
“TIDAK! Jangan
lakukan! Aku tidak ingin Misa tau keadaanku! Rahasiakan ini darinya, TOLONG!”
ucap Hiro mencegah Seikei menelpon Misa. Seikei bingung, tapi ia menuruti
keinginan Hiro.
Mimpi itu masih saja menghantui
Misa. Hiro yang terbaring didalam peti, dan tersenyum padanya dengan mata
tertutup. Misa ingin sekali mengetahui kabar Hiro, namun saat ia menelponnya,
Hiro tak juga menganggkatnya. Misa mengiriminya pesan, tapi Hiro tak membalas.
Misa semakin khawatir. Empat hari ini Misa tak tau kabar Hiro. Ia mencoba
bertanya pada Seikei dan Citra, tapi tak satupun dari mereka membalas pesan
darinya. Begitupun dengan Agni. Mereka semua menghilang tiba-tiba.
Sampai pagi itu datang. Citra
menelponnya dengan suara serak. Ia menangis. Misa bertanya ada apa dengannya,
tapi Citra terus saja menangis. Misa
memintanya bicara saat ia tenang.
“MAAF, aku tidak bisa menjaganya
untukmu, Misa!” Citra sesegukan.
“ada apa? Siapa yang tak bisa kau
jaga,Cii?” Misa sedikit panik. Bayangan Mimpi itu kembali datang.
“Hiro, dia..dia.pergi!” Citra
bicara dengan suara terputus putus.
“pergi? Kemana Cii, ayolah jangan
buat aku penasaran setengah mati!” Misa mulai tak sabar.
“Hiro, meninggal!” setelah
mengucapkan iu, Citra kembali menangis. Misa terdiam. Ia tak mempercayai
pendengarannya. Ia tersenyum didepan cermin dan menyakinkan dirinya Hiro
baik-baik saja. Tapi kata-kata Citra sangat jelas. Apalagi Yuki juga
memberitahunya setelah Citra. Misa akhirnya menangis terdiam. Suaranya tak mampu
keluar. Ia terpukul. Lalu ia berlari mencari kakaknya dan memintanya
mengantarkan Misa ke kota tempat tinggalnya dulu.
Pemakamanan itu diliputi tangisan keluarga dan teman-teman
Hiro. Mereka tak percaya Hiro sudah tak lagi berada diantara mereka. Misa datang
diantara kerumunan orang-orang itu dan menghambur kearah peti jenazah Hiro. Disana
ia menangis seperti orang gila. Misa sangat kehilangan sahabat terbaik yang
dimilikinya. Citra dan Agni menghampirinya dan membantunya bangkit. Semetara Seikei
berulang kali pingsan karena tak kuat menghadapi kenyataan. Saudara kembarnya,
yang lahir bersamanya, kini justru pergi tanpanya. Seikei berteriak-teriak
memanggil Hiro. Misa, Citra,dan Agni mendekatinya dan memeluknya bersamaan.
“Misa, Maafkan
aku!” Seikei bicara sembari menunduk, ia terus saja meminta maaf pada Misa.
“Zee, jangan
lakukan ini!” Misa menangis memeluk Seikei. Ia tau semua yang terjadi setelah
Citra memberitahunya melalui e-mail.
“jangan
salahkan dirimu! Hiro akan kecewa denganmu Zee!” Misa kembali bicara mencoba
menguatkan Seikei, padahal keadaannya tak sebaik yang ia pikirkan.
Mereka mengantarkan jenazah Hiro dengan tangisan. Kini
sahabatnya telah pergi, dan tak mungkin kembali lagi ditengah-tengah mereka.
Misa berdiri disamping kuburan Hiro. Dan memberinya senyuman terakhir sebelum
ia kembali pulang. Ia tak menepati janjinya pada Hiro. Ia datang, saat
seharusnya ia mengikuti rapat OSIS. Tapi
Misa tak mau menyesal, ia ingin melihat wajah sahabatnya untuk yang terakhir
kalinya. Seperti dalam mimpinya, Hiro terbaring dengan senyuman saat Misa
melihatnya.
“kau pasti di
Surga saat ini! tetaplah bersamaku, Hiro!” Misa bicara pada kuburan Hiro.
“persahabatan
ini adalah yang terindah! Terima kasih karena telah menjadi bagian dari diriku
selama ini! Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya, dan jika saat itu
tiba, jadilah sahabatku lagi, dan jangan pergi dengan cara seperti ini!” Misa
bicara untuk yang terakhir kalinya. Ia melangkah meninggalkan kuburan Hiro dan
mencoba untuk menjadi kuat.
Sejak saat itu, hubungan Misa dengan Ketiga sahabatnya masih
tetap baik, meskipun mereka mulai jarang berkomunikasi satu sama lain. Mereka
sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tiga tahun kemudian Seikei menelponnya.
“Misa, aku
titip Citra padamu!” kata Seikei membuat Misa terkejut.
“ada apa?
Jangan membuatku takut Zee!” Misa sedikit membentak Seikei.
“aku akan ikut
papa ke Jepang, aku akan kuliah disana, mungkin aku akan sangat jarang pulang
ke Indonesia!” Seikei menjelaskan pada Misa perihal kepergiannya. Misa terdiam.
Ia harus kehilangan satu lagi sahabatnya untuk waktu yang tak tentu.
“aku akan
menghubungimu melalui E-mail, aku janji akan kembali untuk mengunjungimu dan
yang lain!”
“hati-hati Zee,
jaga dirimu! Aku menyayangimu, sahabatku, Seikei Ikeuchi!” Misa merelakan
kepergian Seikei meski sedikit berat.
“aku juga, aku
sangat sangat sangat menyayangimu, sahabatku, Misa ” kata Seikei lalu menutup
teleponya setelah Misa mengucapkan selamat jalan.
Saat Seikei harus ikut orang tuanya ke Jepang, Citra yang
kuliah di luar Kota, sementara Agni masih bertahan di sana. Hubungan komunikasi
mereka semakin jarang. Meski begitu, Hiro terkadang hadir dalam mimpi Misa dan
menghiburnya saat ia merindukan ketiga sahabatnya.
Hati Misa bicara padanya. Meski saat ini ia tak tau dimana Seikei,Citra
dan Agni, tapi Misa percaya, ketiga sahabatnya merindukannya juga. Persahabatan itu tak akan berakhir sampai
disini. Persahabatan itu, hanya terpisah ruang dan waktu, namun masih terukir
dihati mereka berempat.
“meski sekarang
tak bersama seperti dulu, tapi aku percaya, aku dan yang lainnya akan bertemu
suatu saat nanti lagi! Meskipun itu saat usia tak lagi bersamaku ataupun yang
lainnya. Kami akan berkumpul kembali, meskipun saat ajal salah satu dari kami
tiba! Apapun yang terjadi, aku akan bertemu mereka lagi!” batin Misa ditemani
bayangan Hiro bersamnya.
“meski terpisah
tempat, selama tempat itu masih ada di Bumi, aku akan melihat mereka, dan
menjaga mereka, dari sini, dari hatiku!” batin Seikei menggenggam bayangan
saudara kembarnya, Hiro.
“aku mencintai
Misa, Seikei, Hiro dan Agni selamanya! Dan tak akan berubah!” Nadia tersenyum
menatap foto mereka dulu.
“hey, Kotak ini
belum kita buka, kawan-kawan! Aku akan menunggu kalian untuk membukanya,
meskipun harus menunggu hingga di kehidupan yang akan datang! Hiro,jangan
mengkhianati kami lagi dengan pergi begitu cepat! Zee, jangan terlahir sebagai
orang yang harus tinggal di tempat yang jauh lagi! Cii, di kehidupan yang akan
datang, jangan kuliah di tempat yang jauh, ya! Dan Misa, jangan pindah dan
pergi dari kami seperti dulu lagi! Aku merindukan kalian sahabat-sahabatku!”
Agni bergumam seraya menatap kotak kayu milik mereka.
“Aku akan
terlahir kembali diantar kalian kawan-kawan! Tunggu aku!” suara Hiro bergema di
hati Misa, Seikei, Citra dan Agni.
Persahabtan itu belum berakhir. BUKAN!! Tapi tak akan pernah
berakhir, karena mereka tak berujung!
~~~THE END~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar