welcome...

hii friends,,welcome to my blog,,I like to share everything to the world,,hope we can be a friend,,
happy reading,,

Jumat, 03 Agustus 2012

THE UNFORGOTTEN MOMENT (IMMORTAL) I’m dedicated to my childhood friends, and my bestfriends...






If I die tonight, I’d go with no regret, / If it’s in your arms, I know that I was blessed, /And if your eyes, are the last thing that I see, / Then I know the beauty heaven hold for me, /But if I make it through, If I live to see the day,/ If I’m with you, I’ll know just what to say, / The truth be told, Friends you take my breath away, / Every minute, every hour, every day,/ ‘Cause every moment, we share together, / Is even better, than the moment before,/ If every day was, as good as today was, /Than I can wait ‘till tomorrow comes...
                                                                   (Westlife, Moment)
          Misa bernyanyi meski dengan suara yang apa adanya. Hiro mengiringinya dengan suara gitar akustiknya, sedangkan Citra, Seikei, dan Agni mendengarkan mereka sembari ikut berdendang. Persahabatan itu mungkin bukan yang sempurna, tapi dihati mereka, tak ada yang seindah apa yang mereka alami. Duduk dan menghabiskan waktu bersama diatas rumah pohon, dikelilingi pohon apel yang sedang berbuah. Tentu saja mereka terlihat seperti anak-anak lain yang bahagia.
          “Hiro, nadanya terlalu tinggi!” Misa menegur Hiro dan kembali mengulang nyanyiannya.
          “aku rasa sudah cukup, tapi baiklah.” Hiro kembali memulai dengan nada yang sedikit rendah sesuai permintaan Misa.
Kali ini Citra ikut benyanyi. Suaraya terdengar lebih tinggi daripada suara Misa. Meski begitu, harmonisasi keduanya terdengar indah. Benyanyi sembari tersenyum. Itulah yang membuat hari-hari mereka indah.
          “aku akan pulang mengambil camilan!” Agni bangkit dan turun dari rumah pohon buatan ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 9. Kebun apel itu milik ayahnya. Disana hanya ada pohon apel, kecuali satu pohon mangga yang sekarang menjadi tempat rumah pohon itu berdiri. Tempat itu menjadi saksi persahabatan mereka selama hampir 5 tahun ini.
          Misa seorang anak yang apa adanya. Ia sangat mencintai sahabat-sahabatnya itu. Terlahir sebagai yang paling muda diantara mereka, tidak membuatnya menjadi lebih kekanak-kanakan. Ia justru menjadi yang paling bersikap dewasa. Hiro dan Seikei adalah saudara kembar. Meski begitu, tak ada kemiripan diantara mereka, kecuali tingkat kepandaian yang diatas rata-rata sahabat-sahabatnya itu. Sedangkan Citra adalah gadis lembut yang pemalu. Tapi ia adalah sosok yang kuat diantara mereka. Dan Agni anak yang sangat lucu dan mudah membuat semua orang tertawa dengan berbagi leluconnya. Persahabatan mereka telah berlangsung selama 14 tahun, yaitu sejak mereka dilahirkan. Para orang tua mereka merupakan teman yang cukup baik.
          “Agni tunggu, apa sebaiknya aku ikut denganmu?” Seikei berteriak memanggil Agni yang belum jauh berjalan dibawah rumah pohon. Agni melambaikan tangan meminta Seikei turun dan pergi bersamanya.
          “aku akan menemani Agni pulang, jangan macam-macam dengan laptopku, Hiro!” Seikei memperingati Hiro yang memang senang sekali memeriksa isi Laptop Seikei.
          “siap Bos!” Hiro menjawab sembari tersenyum nakal.
          “aku akan menjaganya untukmu Zee!” ucap Citra memanggil Seikei dengan panggilan masa kecilnya sembari meraih Laptop Seikei dan mengubahnya menjadi mode Sleep.
          “thank you Cii!” Seikei turun dan berlari menghampiri Agni.
Sementara Agni dan Seikei mengambil camilan, Hiro dan Misa berusaha mengambil laptop Seikei dari Citra. Hal itu membuat Citra kewalahan menghadapi kedua sahabatnya yang memang terkenal dengan sikap jahilnya itu.
          “Misa, Hiro, ayolah jangan seperti ini!” Citra memeluk Laptop Seikei dan menjauhkannya dari kedua sahabatnya itu. “kalian kan sudah janji tak akan menyantuhnya! Zee akan marah besar nanti!” Citra kembali memohon. Tapi kedua sahabatnya terus saja menggodanya.
          “Cii, kau terlalu baik pada Zee! Kau menyukainya?” Hiro menggodanya membuat pipi Citra terlihat sedikit memerah.
          “Cii, kau benar menyukai Zee?” Misa ikut menggoda Citra saat melihatnya tersipu malu.
          “ayolah jangan menggodaku terus, teman-teman.” Citra semakin malu dan bingung harus mengatakan apa.
          “baiklah! Tapi berikan Laptop Zee padaku! Sebentar saja!” Hiro kembali mencari celah untuk dapat melihat isi Laptop saudaranya itu. Citra akhirnya mengalah dan memberikan Laptop itu pada Hiro.
          “kembalikan saat aku meminta!” dia memperingati Hiro.
Tanpa basa-basi, Hiro membuka Laptop Seikei dan mencari sesuatu. Ia tersenyum saat menemukan apa yang dicarinya. Misa ikut melihat dan terlihat terkejut. Keduanya saling menatap. Mereka sama terkejutnya. Mereka tak menyangka jika dugaan mereka berdua selama ini benar.
          “aku tak salah lihat kan,?” Misa berguman pada Hiro, membuat Citra ikut penasaran dengan apa yang dilihat keduanya itu.
          “kurasa tidak! Aku tau dia pasti menyukainya juga.” Hiro meyakinkan apa yang dilihat mereka. Keduanya lantas menatap Citra sembari tersenyum. Membuat Citra semakin penasaran.
          “apa yang kalian lihat! Sudah kembalikan Laptop Zee!” Citra lalu mengambil Laptop itu dari Hiro dan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Wajah terkejut Citra bahkan lebih parah dari Misa. Ia tak menyangka dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba hatinya diselimuti kebahagian. Ia tak menyangka Seikei juga menyukainya. Lebih dari sahabat.
          “Misa, Hiro, jangan beritahu Zee aku melihat ini!” Ia menunjuk foto-fotonya yang disimpan Zee di Laptopnya dengan folder bernama My Love. Hanya ada fotonya disana, terpisah dari foto yang  lain.
          “kami juga berpikir begitu! Tapi kami tidak janji tak akan mengolok-olok kalian setelah ini.” Hiro tak juga berhenti menggoda Citra. Misa hanya tersenyum menimpali.
          Seminggu telah lewat sejak kejadian dirumah pohon itu. Hiro dan Misa terus menerus menggoda Citra dan Seikei, yang membuat keduanya akhirnya mengakui perasaan masing-masing. Agni yang terakhir mengetahui hal itu, sangat kesal dengan Hiro dan Misa yang tak memberitahunya terlebih dahulu. Namun mereka semua bahagia atas hubungan baru Seikei dan Citra.
          “Hiro Ikeuchi!” guru matematika memanggil Hiro dan memintanya menjawab soal persamaan Trigonometri matematika di papan tulis. Hiro yang sangat menyukai pelajaran Matematika dengan semangat maju dan menyelesaikan soal dalam waktu tak lebih dari 5 menit.
          “terima kasih, Hiro. Kau menjawabnya dengan benar.” Guru matematika itu memberinya pujian atas apa yang telah dilakukannya untuk yang kesekian kalinya.
          “jika kalian mengalami kesulitan, kalian bisa bertanya pada Hiro. Hiro Bapak mohon bantuanmu untuk membantu teman-temanmu nanti.” Pak Gery meminta pada Hiro yang di jawab dengan anggukan pasti dari Hiro.
          “hai Master Math, kurasa kau akan sibuk hari ini!” Misa dan Agni menemui Hiro yang sedang asik membaca komic barunya di teras depan rumahnya.
          “jangan sekarang, kalian tak lihat aku sedang sibuk!” Hiro beranjak meninggalkan mereka berdua dan masuk ke kamarnya. Misa dan Agni saling melihat lalu ikut masuk ke kamar Hiro.
          “ayolah, kau tau nilai matematika kami sangat menyedihkan!” Agni memohon pada Hiro.
          “kau sudah berjanji pada Pak Gery! Tepati itu Mr. Math!” Misa merebut komic yang dibaca Hiro dan menyimpan komic itu di tasnya. Hiro berusaha merebutnya, tapi tak berhasil. Ia justru tersungkur jatuh ke lantai. Agni dan Misa mennertawakan tingkah Hiro, membuatnya tak punya pilihan lain selain mengajari kedua sahabatnya itu.
          “sebaiknya kerjakan soal itu di rumah pohon! Seikei akan mengganggu jika kita disini!” Hiro mulai serius dan mengambil beberapa buku lalu memasukkannya kedalam tas. Kedua sahabatnya mengikutinya berjalan menuju markas besar mereka, HomeTree.
          Sebulan lagi Ujian Nasional akan berlangsung. Mereka berlima sudah mempersiapkan Ujian itu dengan cukup baik. Mereka siap dengan soal-soal yang akan mereka hadapi. Semua tak sabar untuk segera menjadi siswa dan siswi SMU. Dan saat ujian berlangsung, maka mereka mengerjakan soal dengan hati-hati dan serius. Mereka berjuang untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Terutama Seikei dan Hiro. Keduanya berjuang memperoleh nilai tertinggi. Karena ayah mereka berjanji, jika nilai mereka adalah yang tertinggi, maka mereka akan mendapatkan liburan di Tokyo. Tentu saja mereka bersemangat. Hampir setahun ini ayah mereka tak mengunjungi mereka di Indonesia.
          Hari penentuan kelulusan. Hati siswa-siswi SMP itu tak sabar ingin mengetahui hasil perjuangan mereka selama ini. Hiro menatap Misa yang telah melihat hasi pengumuman di papan pengumuman sekolah. Sementara itu Seikei berteriak kegirangan melihat namanya tertulis sebagai siswa dengan nilai peringkat kedua disekolah. Nilainya mendekati sempurna. Citra dan Agni juga telah melihat nilai masing-masing, dan cukup membuat mereka puas.
          “Misa, ayolah katakan! Jangan menggodaku dengan tatapan itu!” Hiro memaksa Misa mengatakan hasil yang dilihatnya.
          “Hiro, aku minta maaf,,tapi..”Misa tak melanjutkan kata-katanya. Hiro terlihat lemas. Dia yakin lulus, namun melihat ekspresi Misa, ia yakin, nilainya tak seperti yang diharapkan.
          “hey, kenapa kau lemas!” Misa menegur Hiro dan memegang pundaknya. “aku belum selesai!” lanjutnya membuat Hiro kembali menatapnya kesal.
          “Hah, kau menang kali ini,Hiro!” Seikei mendekati Hiro dan merangkul pundaknya dari samping. Hiro terkejut. Ia tau nilainya pastilah lebih tinggi dari Seikei. Misa kali ini berhasil menggodanya.
          “Kau peringkat pertama Hiro!” Agni memberitahu Hiro dan memberinya selamat. Hiro kegirangan. Ia memeluk Seikei dan Agni bergantian.
          “akhirnya, aku bisa bertemu ayah!” Ia berteriak kegirangan kemudian memeluk Misa.
          “kenapa menggodaku? Kau ini sangat menyebalkan!” ia berkata sembari menunjukan ekspresi kesal, namun kembali memeluk Misa. “Arigatou, Misa-chan!” lanjutnya, Misa balas memeluk sahabat terdekatnya itu. Ia juga merasakan kebahagian Hiro. Dihatinya sekarang, kebahagian Hirolah yang telah meliputi hatinya, bukan kebahagiaannya, karena ia memang tak bahagia.
          “kau kenapa Misa?” Citra menyadari perasaan sedih Misa saat dirumah pohon. Sore itu mereka merayakan kelulusan di tempat biasa.
          “kau lulus dengan nilai lebih tinggi dariku dan Agni, kenapa kau sedih?” Citra mendekati Misa. Yang lainnya mulai menyadari sikap Misa yang sedikit aneh.
          “aku harus pindah! Aku tidak bisa bersama kalian lagi mulai sekarang.” Misa mulai menitikkan air mata. Citra merangkulnya. Setelah Misa tenang, ia menceritakan apa yang terjadi. Ia harus ikut kedua orang tuanya pindah keluar kota. Ia tak mungkin tinggal bersama mereka lagi. Mendengar hal itu, Citra ikut menangis. Suasana hening. Bahkan Hiro tak bicara apapun.  
          “Hey, kita masih bisa bertemu, teman-teman!” Agni memecah keheningan. Hiro tersenyum pada Misa dan menggenggam kedua telapak tangannya.
          “kita akan bersama, disini!” kata Hiro mendekatkan tangan mereka yang saling menggenggam ke dadanya. “kita terhubung disini! Kita akan bersama selamanya, meski bukan ditempat ini!” lanjutnya masih meletakkan kedua tangannya di dadanya. Misa terharu dan memeluk Hiro.
          “terima kasih. Kalian adalah sesuatu yang paling berharga yang aku miliki!” Misa melepaskan pelukannya dan menatap satu persatu sahabatnya.
          “Agni, aku ingin kau selalu bahagia! Jangan bersedih,Oke?!” Misa meletakkan tangannya di pundak Agni. Agni tersenyum pada Misa dan mengangguk.
          “Cii, bertahanlah menghadapi ketiga laki-laki aneh ini! tolong jaga mereka untukku.” Misa memeluk Citra, sementara Citra menangis mendengar kata-kata Misa. Misa lalu mendekati Seikei dan bersiap mengucapkan sesuatu. Tapi Seikei meletakkan telunjuknya di bibir Misa.
          “Jangan berpesan apapun padaku! Aku tidak akan melakukan apapun untukmu! Persahabatan ini milik kita, meski tak bersama! Jadi bertanggung jawablah terhadap Persahabatan ini, meskipun kau jauh!” Seikei bicara panjang lebar, membuat Misa tersenyum. Bagi Misa, Seikei adalah sahabat yang sempurna. Tak ada orang lain yang akan menggantikan posisi Seikei dihatinya.
          “eumm! Aku akan melakukannya, Bos!” canda Misa menghapus air matanya yang menetes.
Hiro tiba-tiba memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya dipundak Misa. Misa menggenggam tangan Hiro dan meletakkan di lehernya. Baik Agni, Citra dan Seikei teharu melihat kedekatan dua sahabatnya itu. Sedari kecil Misa dan Hiro memang tak bisa dipisahkan. Pernah suatu kali, Hiro pergi mengunjungi ayahnya di Tokyo, dan Misa jatuh sakit karena merindukan sahabatnya itu. Padahal Hiro hanya pergi seminggu. Dan sekarang Misa akan berpisah dengan Hiro untuk waktu yang tak tentu. Mereka yakin, hati keduanya merasa kehilangan. Mereka meninggalkan Hiro dan Misa di rumah pohon sendirian. Sementara posisi Hiro dan Misa tak berubah hampir selama 15 menit.
          “secepat itu ya?” Hiro bergumam.
          “maaf, tapi aku terpaksa ikut, Mama melarangku tinggal sendiri disini.”
          “kapan kau pergi?”
          “tiga hari lagi, maaf aku dulu memintamu tak meninggalkanku terlalu lama, tapi justru aku yang melakukannya.” Misa mendekatkan wajahnya ke kepala Hiro yang masih dipundaknya.
          “ingat meneponku, bila perlu setiap hari!” Hiro meminta Misa dengan sedikit paksaan. Misa mengangguk mengiyakan. Hiro melepaskan pelukannya dan pindah duduk menghadap Misa.
          “lihat aku!” Misa melakukan apa yang Hiro minta. Ia berusaha menahan air matanya tak keluar.
          “apapun yang terjadi, tetaplah menjadi Misa yang kukenal. Jangan mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi padaku, jangan tinggalkan sesuatu yang sedang kau lakukan! Aku akan sangat marah padamu jika kau lakukan itu!” Hiro menggenggam pundak Misa, sembari memaksakan senyumannya keluar. Ia berusaha terlihat kuat dihadapan Misa, meskipun hatinya enggan berpisah dari sahabat kecilnya itu. Ia melihat setetes air mata jatuh dari mata Misa. Hiro menghapusnya dan mencium kedua mata sahabat yang sangat disayanginya itu. Misa menangis dipelukkannya. Hiro pun tak tahan untuk tak menangis, dan air matanya jatuh.
          Sudah hampir setengah tahun Misa berpisah dengan keempat sahabat kecilnya. Meski ingin bertemu, namun ia belum juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya. Meski begitu, sesuai janjinya, ia menelpon Hiro hampir setiap hari, meski hanya untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan sahabat yang dikaguminya itu.
          “aku peringkat pertama di sekolah!” kata Hiro suatu sore saat Misa menelponya. Suaranya terdengar senang.
          “seperti dugaanku, kau memang yang terbaik!” Misa ikut senang mendengar berita itu. Mereka berdua berbincang-bincang cukup lama. Hingga Hiro meminta Misa benyanyi unutuknya. Ia sendiri akan mengiringi dengan gitar, seperti yang sering mereka lakukan dulu.
          A moment in time, is all that’s given you and me,/ A moment in time, and it’s something you should seize,/ so I won’t make the mistake of letting go,/ everyday you’re here, I’m gonna let you know,/ that every moment, we share together,/ Is even better, than the moment before,/ If every day was, as good as today was, /Than I can wait ‘till tomorrow comes,/ each morning that i get up,/ I love You more than ever,/ So friend I’ll never go away, never stray...,/ I love love love the moment,/ moments me share together,/ I pray they’d last forever, now!
                                                                   (Westlife, Moment)
Kebahagiaan keduanya memang bukanlah kebahagiaan yang sempurna. Namun orang lain tak memiliki kebahagiaan seperti yang dirasakan Misa dan Hiro. Persahabatan yang indah, kepercayaan akan tiadanya pengkhiantan dalam persahabatan mereka. Menciptakan sebuah kisah yang tiada akhir di hati mereka. Cinta keduanya tak akan mampu terpisahkan meski waktu akan berakhir.
          Tapi, bahagia akan hadirnya sahabat di dunia ini, bukanlah satu hal yang bisa berlangsung selama yang diharapkan Misa. Malam itu hatinya tak tenang. Ia mengerjakan soal-soal Kimia untuk olimpiade yang akan berlangsung esok harinya dengan perasaan gundah. Perasaan kehilangan tiba-tiba saja dirasakannya. Misa mencoba lebih berkonsentrasi dengan buku dihadapannya, namun gagal.
          “apa sebaiknya aku menelpon Hiro saja, ya?” ia bicara pada dirinya sendiri. Misa mencoba menelpon Hiro namun tak seorangpun mengangkat telponnya. Misa akhirnya memutuskan untuk tidur.
Sementara itu, Hiro terbaring tak berdaya di kamar operasi. Sementara Seikei pingsan di kamar perawatan yang lain. Kedua orang tua mereka menunggu dengan tak sabar. Yuki, kakak perempuan Hiro dan Seikei menunggui Seikei, sementara orang tua mereka, menunggu hasil operasi Hiro. Dua jam, tiga jam, dan empat jam kemudian, operasi selesai. Seorang dokter perempuan keluar dari ruang operasi sembari membuka sarung tangan dan maskernya.
          “bagaimana anak itu, dokter? Apa dia baik-baik saja?” ayah Hiro bertanya dengan sedikit panik.
          “keadaannya masih kritis, sebaiknya kita bicara di ruangan saya, Pak.” Dokter itu mengajak ayah dan ibu Hiro bicara diruangannya.
Diruang perawatan, Seikei mulai sadar dari pingsannya. Yuki menemaninya dengan cemas. Ia tak hanya mencemaskan Seikei, tapi ia juga ingin segera tau keadaan Hiro.
          “onee-chan, bagaimana Hiro?” Seikei bertanya dengan lemah.
          “entahlah, mama dan papa belum memberitahuku! Sebaiknya kita tunggu saja!”
          “sebenarnya apa yang terjadi,Zee?” Yuki bertanya pada Seikei sembari membantunya duduk.
          “saat nenek memintaku membeli lilin, aku memaksa Hiro ikut, dan..” Seikei menghetikan kata-katanya.
          “apa?”
          “dan mobil itu datang, aku terpental tapi Hiro ada di tengah jalan berlumuran darah, setelah itu aku tak tau!” Seikei terdengar sedih. Air matanya bahkan menetes di pipinya.
          “aku tak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Hiro!” katanya tertunduk. Keadaan kembali hening.
Tiga hari kemudian Hiro sadar dari koma. Namun kondisinya sangat lemah. Terlebih lagi, ia sangat terpukul dengan keadaannya yang cacat. Ia harus merelakan tangan kirinya untuk di amputasi. Sejak sadar, Hiro tak bicara dengan siapapun. Ia menjadi sangat pendiam. Dia sangat membenci dirinya yang sekarang.
          “aku tidak bisa bermain gitar lagi!” gumamnya pada diri sendiri.
Seikei berusaha menghibur Hiro, tapi gagal. Citra dan Agni pun tak tau harus berbuat apa.
          “aku akan memberitahui Misa!” kata Seikei saat mereka berumpul di ruang perawatan Hiro.
          “TIDAK! Jangan lakukan! Aku tidak ingin Misa tau keadaanku! Rahasiakan ini darinya, TOLONG!” ucap Hiro mencegah Seikei menelpon Misa. Seikei bingung, tapi ia menuruti keinginan Hiro.
Mimpi itu masih saja menghantui Misa. Hiro yang terbaring didalam peti, dan tersenyum padanya dengan mata tertutup. Misa ingin sekali mengetahui kabar Hiro, namun saat ia menelponnya, Hiro tak juga menganggkatnya. Misa mengiriminya pesan, tapi Hiro tak membalas. Misa semakin khawatir. Empat hari ini Misa tak tau kabar Hiro. Ia mencoba bertanya pada Seikei dan Citra, tapi tak satupun dari mereka membalas pesan darinya. Begitupun dengan Agni. Mereka semua menghilang tiba-tiba.
Sampai pagi itu datang. Citra menelponnya dengan suara serak. Ia menangis. Misa bertanya ada apa dengannya, tapi Citra terus saja menangis.  Misa memintanya bicara saat ia tenang.
“MAAF, aku tidak bisa menjaganya untukmu, Misa!” Citra sesegukan.
“ada apa? Siapa yang tak bisa kau jaga,Cii?” Misa sedikit panik. Bayangan Mimpi itu kembali datang.
“Hiro, dia..dia.pergi!” Citra bicara dengan suara terputus putus.
“pergi? Kemana Cii, ayolah jangan buat aku penasaran setengah mati!” Misa mulai tak sabar.
“Hiro, meninggal!” setelah mengucapkan iu, Citra kembali menangis. Misa terdiam. Ia tak mempercayai pendengarannya. Ia tersenyum didepan cermin dan menyakinkan dirinya Hiro baik-baik saja. Tapi kata-kata Citra sangat jelas. Apalagi Yuki juga memberitahunya setelah Citra. Misa akhirnya menangis terdiam. Suaranya tak mampu keluar. Ia terpukul. Lalu ia berlari mencari kakaknya dan memintanya mengantarkan Misa ke kota tempat tinggalnya dulu.
Pemakamanan itu diliputi tangisan keluarga dan teman-teman Hiro. Mereka tak percaya Hiro sudah tak lagi berada diantara mereka. Misa datang diantara kerumunan orang-orang itu dan menghambur kearah peti jenazah Hiro. Disana ia menangis seperti orang gila. Misa sangat kehilangan sahabat terbaik yang dimilikinya. Citra dan Agni menghampirinya dan membantunya bangkit. Semetara Seikei berulang kali pingsan karena tak kuat menghadapi kenyataan. Saudara kembarnya, yang lahir bersamanya, kini justru pergi tanpanya. Seikei berteriak-teriak memanggil Hiro. Misa, Citra,dan Agni mendekatinya dan memeluknya bersamaan.
          “Misa, Maafkan aku!” Seikei bicara sembari menunduk, ia terus saja meminta maaf pada Misa.
          “Zee, jangan lakukan ini!” Misa menangis memeluk Seikei. Ia tau semua yang terjadi setelah Citra memberitahunya melalui e-mail.
          “jangan salahkan dirimu! Hiro akan kecewa denganmu Zee!” Misa kembali bicara mencoba menguatkan Seikei, padahal keadaannya tak sebaik yang ia pikirkan.
Mereka mengantarkan jenazah Hiro dengan tangisan. Kini sahabatnya telah pergi, dan tak mungkin kembali lagi ditengah-tengah mereka. Misa berdiri disamping kuburan Hiro. Dan memberinya senyuman terakhir sebelum ia kembali pulang. Ia tak menepati janjinya pada Hiro. Ia datang, saat seharusnya ia mengikuti rapat  OSIS. Tapi Misa tak mau menyesal, ia ingin melihat wajah sahabatnya untuk yang terakhir kalinya. Seperti dalam mimpinya, Hiro terbaring dengan senyuman saat Misa melihatnya.
          “kau pasti di Surga saat ini! tetaplah bersamaku, Hiro!” Misa bicara pada kuburan Hiro.
          “persahabatan ini adalah yang terindah! Terima kasih karena telah menjadi bagian dari diriku selama ini! Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya, dan jika saat itu tiba, jadilah sahabatku lagi, dan jangan pergi dengan cara seperti ini!” Misa bicara untuk yang terakhir kalinya. Ia melangkah meninggalkan kuburan Hiro dan mencoba untuk menjadi kuat.
Sejak saat itu, hubungan Misa dengan Ketiga sahabatnya masih tetap baik, meskipun mereka mulai jarang berkomunikasi satu sama lain. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tiga tahun kemudian Seikei menelponnya.
          “Misa, aku titip Citra padamu!” kata Seikei membuat Misa terkejut.
          “ada apa? Jangan membuatku takut Zee!” Misa sedikit membentak Seikei.
          “aku akan ikut papa ke Jepang, aku akan kuliah disana, mungkin aku akan sangat jarang pulang ke Indonesia!” Seikei menjelaskan pada Misa perihal kepergiannya. Misa terdiam. Ia harus kehilangan satu lagi sahabatnya untuk waktu yang tak tentu.
          “aku akan menghubungimu melalui E-mail, aku janji akan kembali untuk mengunjungimu dan yang lain!”
          “hati-hati Zee, jaga dirimu! Aku menyayangimu, sahabatku, Seikei Ikeuchi!” Misa merelakan kepergian Seikei meski sedikit berat.
          “aku juga, aku sangat sangat sangat menyayangimu, sahabatku, Misa ” kata Seikei lalu menutup teleponya setelah Misa mengucapkan selamat jalan.
Saat Seikei harus ikut orang tuanya ke Jepang, Citra yang kuliah di luar Kota, sementara Agni masih bertahan di sana. Hubungan komunikasi mereka semakin jarang. Meski begitu, Hiro terkadang hadir dalam mimpi Misa dan menghiburnya saat ia merindukan ketiga sahabatnya.
Hati Misa bicara padanya. Meski saat ini ia tak tau dimana Seikei,Citra dan Agni, tapi Misa percaya, ketiga sahabatnya merindukannya juga.  Persahabatan itu tak akan berakhir sampai disini. Persahabatan itu, hanya terpisah ruang dan waktu, namun masih terukir dihati mereka berempat.
          “meski sekarang tak bersama seperti dulu, tapi aku percaya, aku dan yang lainnya akan bertemu suatu saat nanti lagi! Meskipun itu saat usia tak lagi bersamaku ataupun yang lainnya. Kami akan berkumpul kembali, meskipun saat ajal salah satu dari kami tiba! Apapun yang terjadi, aku akan bertemu mereka lagi!” batin Misa ditemani bayangan Hiro bersamnya.
          “meski terpisah tempat, selama tempat itu masih ada di Bumi, aku akan melihat mereka, dan menjaga mereka, dari sini, dari hatiku!” batin Seikei menggenggam bayangan saudara kembarnya, Hiro.
          “aku mencintai Misa, Seikei, Hiro dan Agni selamanya! Dan tak akan berubah!” Nadia tersenyum menatap foto mereka dulu.
          “hey, Kotak ini belum kita buka, kawan-kawan! Aku akan menunggu kalian untuk membukanya, meskipun harus menunggu hingga di kehidupan yang akan datang! Hiro,jangan mengkhianati kami lagi dengan pergi begitu cepat! Zee, jangan terlahir sebagai orang yang harus tinggal di tempat yang jauh lagi! Cii, di kehidupan yang akan datang, jangan kuliah di tempat yang jauh, ya! Dan Misa, jangan pindah dan pergi dari kami seperti dulu lagi! Aku merindukan kalian sahabat-sahabatku!” Agni bergumam seraya menatap kotak kayu milik mereka.
          “Aku akan terlahir kembali diantar kalian kawan-kawan! Tunggu aku!” suara Hiro bergema di hati Misa, Seikei, Citra dan Agni.
Persahabtan itu belum berakhir. BUKAN!! Tapi tak akan pernah berakhir, karena mereka tak berujung!


~~~THE END~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar