welcome...

hii friends,,welcome to my blog,,I like to share everything to the world,,hope we can be a friend,,
happy reading,,

Jumat, 03 Agustus 2012

SUMMER LOVE




          Musim panas baru saja dimulai. Hati para mahasiswa semester 5 Universitas Tokyo menikmati liburan musim panas mereka. Terutama para mahasiswa Fakultas Sastra. Liburan musim panas kali ini mereka nikmati bersama-sama untuk kelima kalinya. Osaka, adalah pilihan hampir semua siswa. Ree berharap musim panas ini tak seburuk musim panas lalu. Ia hampir bisa dipastikan sangat membenci musim panas, karena kejadian menyedihkan dua tahun lalu.
          “itekimasu!” Ree berjalan meninggalkan rumah dengan enggan. Awalnya ia tak berniat ikut, namun sahabatnya, Ui, memaksanya ikut dengan alasan Ui sangat ingin menikmati musim panas dengan Ree. Memang dasarnya Ree tidak tega jika Ui memintanya seperti itu, alhasil ia menyetujui permintaan sahabatnya itu.
          “ohayou,Ree-chan!” Ui menyapa Ree saat ia baru saja sampai di depan gerbang sekolah.     
          “oh,Ohayou,” Ree menjawab dan berjalan bersama Ui.
          “Ree, kau tau tidak si Pendiam Kaze?” Ui berjalan mendahului Ree dan berbalik menghadapnya. Ree menggeleng sembari tetap berjalan kerah Ui, yang berjalan mundur.
          “Ah, jadi kau tidak tau!” Ui terdengar sedikit kecewa.
          “Doushite?” Ree menjawab tak ingin melihat Ui kecewa atas ketidaktahuannya itu.
          “aku dengar, ia ikut tour kita untuk pertama kalinya!” Ui terdengar antusias menceritakan hal tentang laki-laki yang sama sekali tak Ree ketahui.
          “oh, soka!” Ree bersikap biasa saja yang membuat Ui tidak tau harus bicara apa lagi. Ui akhirnya memilih diam saja. Dia tau, pada liburan musim panas ini, sebenarnya Ree tak ingin ikut. Tapi Ui justru memaksanya.
Semua mahasiswa berkumpul sebelum keberangkatan menuju Osaka. Hikari, Ketua Fakultas memberi arahan mengenai kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan selama berada di Osaka. Semua mendengarkan dengan tenang, kecuali Keana dan tiga orang temannya, Joana, Akane, Aishya, dan Rena. Mereka memang dikenal sebagai empat orang gadis yang tidak bisa diam. Ada saja hal yang mereka lakukan disaat-saat penting. Hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah mereka. Apalagi dengan keadaan orang tua mereka yang kaya raya.
          “baiklah, tolong masuk kedalam bus dengan tenang, dan jangan sampai ada barang yang tertiggal!” Hikari menyelesaikan pidatonya. Ree, Ui dan semua mahasiswa yang ikut memasuki bus dengan tenang.
          “Ree,gomen ne, aku tidak bisa duduk denganmu, Nakatsu memaksaku duduk dengannya!” Ui terdengar menyesal harus meninggalkan Ree duduk sendirian.
          “Oh, daijobu desu.” Ree menjawab dengan tersenyum, membuat Ui tenang dan meninggalkannya duduk sendiri di bangku bus paling belakang. Ree memang sedikit kesal, namun pada akhirnya ia bersyukur karena ia bisa menikamati perjalanannya tanpa ada orang yang mengganggu.
          “sumimasen, apa seseorang duduk denganmu?” seorang laki-laki bertanya pada Ree saat ia sedang asik menikmati kesendirannya. Dengan enggan Ree memindahkan buku yang ada di kursi tepat disampingnya. Laki-laki itu mengerti jika Ree duduk sendiri. Maka ia segera duduk dan berterima kasih pada Ree.
          “Sumimasen, selama perjalanan bisa tidak kau tidak berbicara denganku, aku tidak ingin bicara dengan siapapun!” kata lelaki itu membuat Ree sedikit terkejut.
         “ah? Oh so ka!” Ree membalasnya singkat dan segera memalingkan pandangan kearah jalan raya. “memangnya kau pikir aku mau bicara denganmu! Dasar aneh!” pikir Ree.
          “aku bukan orang aneh!” tiba-tiba saja lelaki itu bicara seolah mendengar apa yang Ree pikirkan. Ree sangat terkejut dibuatnya. Ia  diam, dan tidak memikirkan apapun.
Ree tidak benar-benar menikmati perjalanannya. Sikap lelaki yang duduk bersamanya membuatnya tidak nyaman. “terlalu sepi!” Pikir Ree. Lelaki itu berpaling kearahnya dan membuat Ree kembali diam dan tak berpikir. Meski sesungguhnya, ia ingin tau siapa lelaki aneh yang bisa membaca pikirannya.
Bus sampai di Osaka tepat saat matahari terbenam. Suasana pantai yang sangat indah dimata semua orang, tapi tidak dengan Ree. Ia benci suasana ini. Memori musim panas dua tahun lalu masih belum hilang. Kesedihan yang amat sangat. Ree masih belum bisa mengendalikan diri, saat menghadapi suasana indah seperti ini. Ia akan tanpa sengaja menitikkan air mata dan akhirnya menangis. Begitupun dengan musim panas ini. Ree segera berlari memasuki hotel saat air matanya mulai terasa di pelupuk matanya. Ui melihatnya dan tak tau harus berbuat apa. Ia sangat ingin membantu sahabatnya itu melupakan kesedihannya itu. Tapi ia sendiri tau, kesedihan karena kehilangan seseoarng yang dicintai, tidaklah mudah untukk dilupakan.
          “Ree, gomen ne, aku memaksamu ikut tour kali ini!” Ui duduk disamping Ree dan merangkulnya yang sedang menangis. Ree tidak menjawab dan Ui pun tidak berbicara lagi. Hanya keheningan yang menyelimuti kamar mereka.
Esok paginya, Ree dan Ui mengikuti kegiatan membersihakan pantai yang di programkan ketua fakultas. Kegiatan ini sedikit membuat Ree melupakan kesedihannya tadi malam.
          “oii,,kerja yang benar!” Keana berteriak membentak Jyuni yang menjatuhkan tong sampah yang seharusnya dibawa Keana. Jyuni tidak bisa menolak perintah Keana. Beasiswa Jyuni adalah pemberian dari ayah Keana.
          “Kean, harusnya kau kerjakan itu sendiri! Itu tugasmu!” Ui yang tidak bisa melihat Jyuni dibentak menegur Keana.
          “hah? Siapa kau ikut campur urusanku?” Keana balik membantak Ui, dan mengolok-oloknya. Baru saja Ui akan menampar Keana,tapi Ree mencegahnya.
          “Ui, dame desu!” Ree menarik Ui menjauhi Keana dan teman-temannya. Kean melihatnya dan semakin mengolok-olok Ui.
          “Kean, lakukan saja tugasmu, dan jangan terlalu banyak bicara!” Ui berteriak pada Kean yang membuat Kean sangat membenci Ui dan Ree pada akhirnya.
          “Nani?” Ree bertanya saat Ui menatapnya tajam.
          “kenapa melarangku? Harusnya perempuan itu kuhajar, Ree!” Ui bicara dengan nada kesal. Ree tertawa mendengar kata-kata Ui.
          “kau tidak harus menghajarnya sekarang, ada saatnya Ui!” Ree tersenyum menjawab pertanyaan bodoh Ui. Itu senyum pertamanya sejak tour dimulai. Dan seseorang memperhatikan itu, dan mulai mengguminya.
          “oii, Kaze! Bantu kami mengangkat ini!” Sano berteriak memanggil Kaze yang sedang memperhatikan seorang gadis yang sepertinya pernah ia lihat.
          “hai!” Kaze menjawab panggilan Sano dan berlari kerarahnya. “siapa Gadis itu? aku merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat!” batin Kaze.
          “Ree, kau melihat apa?” Ui memperhatikan Ree yang antusias melihat sesuatu. Ui mengarahkan pandangannya searah dengan Ree.
          “dare desu ka?” Ree menunjuk laki-laki yang duduk bersamanya di bus kemarin. Ui melihat ke arah yang ditunjukkan Ree.
          “anohito Kaze desu! Doushite?” Ui merasa sedikit heran.
          “apa dia bisa membaca pikiran seseorang?” Ree bertanya dengna polosnya. Membuat Ui menertawakannya.
          “Baka! Masaka!” Ui tertawa karena kata-kata Ree.
Ree menatap Ui kesal dan segera pergi meninggalkan sahabatnya yang masih saja menertawainya.
Senja kembali datang. Ui menghilang entah kemana. Ree yakin Ui sedang bersama Nakatsu. Ree berusaha tidak menangis saat duduk di pinggir pantai itu sedirian. Keadaannya saat ini mengingatkannya pada Yugi. Pacar Ree yang meninggal karena tenggelam di pantai saat musim panas dua tahun lalu. Sejak saat itu, Ree trauma melihat seseorang berenang dipantai. Untung saja pantai tempat Ree duduk saat ini sepi. Karena itu, ia sedikit melupakan traumanya. Tapi suasana pantai inilah yang tidak bisa hilang dari memori Ree. Ia melihat matahari tenggelam dan juga Yugi yang ikut tenggelam bersamanya. Meski berusaha sangat keras, tapi Ree kembali menangis.
          “andai saat itu, kau mendengar ucapanku, kau masih akan duduk bersamaku  senja ini!” gumam Ree. Air matanya semakin deras, dan membentuk kabut yang menghalangi pandangannya. Samar-samar dilihatnya seseorang berjalan ke bibir pantai. Ree terdiam. Trauma menguasai pikirannya. Ia berteriak seperti orang gila. Ia berusaha memanggil orang yang tak dikenalnya itu. Tapi suaranya tak didengar. Ree semakin bertingkah seperti orang gila. Ia terus berteriak dan menangis semakin keras. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah dan berlari kearah orang itu. Dipikirannya saat ini, orang itu adalah Yugi.
          “tolong jangan berenang!” teriak Ree saat kakinya tersentuh deburan ombak. Lelaki itu menoleh kerahnya. Dan Ree jatuh berlutut saat lelaki itu berjalan kearahnya. Pakaiannya basah karena ombak. Ia kembali menangis.
          “tolong jangan berenang! Kumohom jangan berenang!” katanya lirih. Lelaki itu mendekatinya dan berlutut didepanya.
          “daijobu desu ka?” ucapnya menatap Ree. Kabut di mata Ree mulai berkurang. Ia semakin jelas melihat siapa lelaki di depannya. Lelaki itu bukan Yugi, melainkan Kaze. Ree bergegas berdiri dan berlari menjauhi Kaze.
          “doushite?” Kaze menghampiri Ree yang duduk di atas sebuah karang besar dipinggir pantai. Ia melihat air mata menetes dari mata Ree.
          “sumimasen, apa aku menyakitimu? Gomen ne!” Kaze panik melihat Ree kembali menangis. Kaze sangat sensitiv dengan gadis yang menangis didekatnya. Ia akan merasa telah melakukan kesalahan pada gadis itu.
          “gomen,gomen,,gomen,,!” hanya itu yang keluar dari mulut Ree. Ia tidak tau harus bicara apa. Kaze pun ikut diam dan duduk disamping Ree, tertunduk.
Ree berjalan ditemani Kaze menuju hotel. Ui dan Nakatsu melihatnya basah dan menghampirinya.
          “Ree, daijobu desu ka?”Ui panik melihat Ree basah dan matanya sembab. Ia melihat kerah Kaze. “kenapa dia?” kata Ui menatap Kaze tajam. Kaze menggeleng dan segera meminta Nakatsu memapah Ree. Ia lalu pergi.
Malam ini kamar Ree dan Ui kembali lengang. Ui ikut menangis saat Ree menceritakan kejadian dipantai tadi. Memori Yugi yang terulang dalam diri Kaze membuat Ree tanpa sadar mencegahnya berenang. Ree hampir tidak bisa tidur hingga pagi hampir menjelang.
Hari ini semua orang bebas dengan kegiatan masing-masing. Ree menolak untuk ikut dengan Ui dan Nakatsu berjalan-jalan. Ree berdiam diri dikamarnya.
          “segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu!” Ui mengingatkan Ree. Ree mengangguk.
Terik matahari segera saja membuat Ree bosan duduk sendiri dikamarnya. Ia keluar berjalan-jalan di pantai. Meskipun kejadian tadi malam membuatnya semakin sakit, tapi Ree bertekad untuk menjadi lebih kuat.
         “daijobu desu ka?” tiba-tiba saja Kaze berjalan dibelakangnya. Ree mengangguk enggan bicara.
          “Yokatta!”
          “kenapa kau berenang disore hari seperti itu?” Ree melihat kearah Kaze sekilas.
          “aku biasa berenang disore hari seperti itu! doushite?” Kaze menjawab pertanyaan Ree. Ini pertama kalinya ia bicara kebiasaannya dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi ia justru merasa nyaman.
          “gomen ne! Aku membuatmu khawatir kemarin!” Ree berjalan semabari menoleh dan tersenyum pada Kaze. Senyuman yang kedua yang dilihat Kaze dari Ree.
          “hai! Aku tidak akan tanya kenapa kau seperti itu!” kata Kaze balas tersenyum pada Ree. Mereka berdua berjalan berdampingan dan keduanya mulai meraskan sesuatu yang aneh.
          “sumimasen, apa aku boleh bertanya satu hal padamu?” tanya Ree sembari duduk diatas pasir pantai yang membentang.
          “nani?”
          “apa kau bisa membaca pikiran seseorang?”
          “watashi? Tentu saja tidak! Doushite?”
          “kenapa kau bilang dirimu bukan orang aneh saat di bus kemarin!
          “ah? Jadi itu kau? Hahaha itu, aku hanya merasa kau menganggapku seperti orang aneh saat bicara seperti itu! jadi aku bilang begitu!”
          “ahh, so ka! Kupikir kau bisa baca pikiran orang!”
          “jadi kau pikir aku aneh?”
          “ Iie, gomen aku tidak bermaksud begitu, gomenasai!”
          “hahaha,daijobu!” kata Kaze tersenyum melihat ekspresi Ree yang merasa bersalah.
          “sebenarnya, aku juga orang yang aneh!” Ree tiba-tiba merasa nyaman berbicara dengan Kaze. Ia tidak berpikir Kaze adalah orang yang sangat pendiam seperti yang dikatakan Ui.
          “ah?”
          “aku trauma melihat orang berenang di pantai, terutama sore hari seperti kemarin!”
          “doushite?”
          “dua tahun yang lalu pacarku tenggelam dipantai saat sore hari! Aku berusaha melarangnya, tapi ia tidak mendengarku! Dan saat matahari terbenam, ia tak juga kembali!”
          “ah,,gomen ne! Aku tidak tau kau punya trauma seperti itu!”
          “daijobu! Aku sudah lebih baik sekarang!”
Mereka duduk memandangi laut yang diterangi matahari siang. Meski musim panas kali ini sangat panas, tapi Entah es dari mana yang datang menyejukkan hati Ree. Mungkinkah angin yang datang dari tubuh Kaze yang telah menyejukkan hatinya saat ini? Ree tidak tau. Ia hanya merasa nyaman. Itu saja.
Hingga sore mereka masih duduk dan berbincang ditempat yang sama. Kini Ree tanpa sadar akan tertawa lepas saat Kaze menceritakan kejadian-kejadian lucu yang dialaminya. Kaze pun tidak lagi menjadi Kaze yang pendiam seperti yang dikatakan orang-orang. Sekarang dihadapan Ree, ia adalah Kaze yang ceria dan menyengangkan. Ia merasa inilah dirinya yang sesungguhnya. Tertawa saat ia ingin tertawa, bicara saat ia ingin bicara. Dan tidak perlu merasa aneh akan perasaan tertekan yang selama ini dirasakannya jika orang mengatakan ia seorang lelaki pendiam yang aneh. Di matanya Ree adalah gadis yang pertama kali membuatnya menjadi orang lain, namun sangat dikenalnya. Mungkin saja ada bunga yang sedang mekar dihatinya musim panas ini. Mungkin saja itu Cinta Musim Panasnya.
          “bolehkah aku berenang?” tiba-tiba Kaze meminta izin pada Ree. Ree ragu. Bayangan Yugi datang sekilas. Ia merasa takut akan kehilangan Kaze, seperti ia kehilangan Yugi.
          “aku ingin membuat traumamu hilang! Beri aku kesempatan Ree!” kata Kaze, “aku berjanji aku akan kembali dengan selamat!” lanjutnya. Ree sangat bingung. Ia tidak ingin kehilangan Kaze, tapi ia juga harus menghilangkan traumanya. Maka ia mengangguk dan mempercayakan segalanya pada Kaze.
Ia menangis saat Kaze menghilang ditengah deburan ombak. Ia sangat sangat takut. Kaze tak juga muncul dari dalam air. Air matanya semakin deras mengalir. Ia tertunduk ketakutan. Tapi sesosok laki-laki muncul diantara deburan ombak. Berjalan dengan langkah pasti menghampiri Ree.
          “aku kan sudah berjanji padamu! Aku tidak mungkin menghianati janjiku!” kata Kaze memengang pundak Ree dan mengangkat wajahnya. Ree menatapnya dan memeluk Kaze.
          “arigatou! Karena kau sudah kembali!” Ree menangis didada Kaze. Kaze memelukanya. Inilah Cinta musim panas yang diraskannya.
          “aku tidak akan membuatmu merasakan trauma seperti itu lagi! Aku janji!” kata Kaze. Ree tersenyum dan tiba-tiba saja bibir mereka berdua bertemu dalam balutan kasih sayang.
Musim panas di Osaka sangat panas. Tapi hati mereka berdua terasa sejuk saat cinta mereka bertemu didepan deburan ombak dan ditatap langsung oleh Sunset yang bersinar keemasan. Cinta Musim panas yang menyatukan keduanya. Mengubah segalanya menjadi indah. Kaze tidak hilang bersama Matahari terbenam, tapi ia kembali untuk merangkul Ree kedalam Summer Love yang dulu pernah dirasakannya. Sangat indah!!!!

~~~THE END~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar