Musim panas baru
saja dimulai. Hati para mahasiswa semester 5 Universitas Tokyo menikmati
liburan musim panas mereka. Terutama para mahasiswa Fakultas Sastra. Liburan
musim panas kali ini mereka nikmati bersama-sama untuk kelima kalinya. Osaka,
adalah pilihan hampir semua siswa. Ree berharap musim panas ini tak seburuk
musim panas lalu. Ia hampir bisa dipastikan sangat membenci musim panas, karena
kejadian menyedihkan dua tahun lalu.
“itekimasu!”
Ree berjalan meninggalkan rumah dengan enggan. Awalnya ia tak berniat ikut,
namun sahabatnya, Ui, memaksanya ikut dengan alasan Ui sangat ingin menikmati
musim panas dengan Ree. Memang dasarnya Ree tidak tega jika Ui memintanya
seperti itu, alhasil ia menyetujui permintaan sahabatnya itu.
“ohayou,Ree-chan!”
Ui menyapa Ree saat ia baru saja sampai di depan gerbang sekolah.
“oh,Ohayou,”
Ree menjawab dan berjalan bersama Ui.
“Ree,
kau tau tidak si Pendiam Kaze?” Ui berjalan mendahului Ree dan berbalik
menghadapnya. Ree menggeleng sembari tetap berjalan kerah Ui, yang berjalan
mundur.
“Ah,
jadi kau tidak tau!” Ui terdengar sedikit kecewa.
“Doushite?”
Ree menjawab tak ingin melihat Ui kecewa atas ketidaktahuannya itu.
“aku
dengar, ia ikut tour kita untuk pertama kalinya!” Ui terdengar antusias
menceritakan hal tentang laki-laki yang sama sekali tak Ree ketahui.
“oh,
soka!” Ree bersikap biasa saja yang membuat Ui tidak tau harus bicara apa lagi.
Ui akhirnya memilih diam saja. Dia tau, pada liburan musim panas ini,
sebenarnya Ree tak ingin ikut. Tapi Ui justru memaksanya.
Semua mahasiswa berkumpul sebelum keberangkatan
menuju Osaka. Hikari, Ketua Fakultas memberi arahan mengenai kegiatan apa saja
yang akan mereka lakukan selama berada di Osaka. Semua mendengarkan dengan
tenang, kecuali Keana dan tiga orang temannya, Joana, Akane, Aishya, dan Rena.
Mereka memang dikenal sebagai empat orang gadis yang tidak bisa diam. Ada saja
hal yang mereka lakukan disaat-saat penting. Hampir tidak ada yang bisa
dilakukan untuk mencegah mereka. Apalagi dengan keadaan orang tua mereka yang
kaya raya.
“baiklah,
tolong masuk kedalam bus dengan tenang, dan jangan sampai ada barang yang
tertiggal!” Hikari menyelesaikan pidatonya. Ree, Ui dan semua mahasiswa yang
ikut memasuki bus dengan tenang.
“Ree,gomen
ne, aku tidak bisa duduk denganmu, Nakatsu memaksaku duduk dengannya!” Ui
terdengar menyesal harus meninggalkan Ree duduk sendirian.
“Oh,
daijobu desu.” Ree menjawab dengan tersenyum, membuat Ui tenang dan
meninggalkannya duduk sendiri di bangku bus paling belakang. Ree memang sedikit
kesal, namun pada akhirnya ia bersyukur karena ia bisa menikamati perjalanannya
tanpa ada orang yang mengganggu.
“sumimasen,
apa seseorang duduk denganmu?” seorang laki-laki bertanya pada Ree saat ia
sedang asik menikmati kesendirannya. Dengan enggan Ree memindahkan buku yang
ada di kursi tepat disampingnya. Laki-laki itu mengerti jika Ree duduk sendiri.
Maka ia segera duduk dan berterima kasih pada Ree.
“Sumimasen,
selama perjalanan bisa tidak kau tidak berbicara denganku, aku tidak ingin
bicara dengan siapapun!” kata lelaki itu membuat Ree sedikit terkejut.
“ah?
Oh so ka!” Ree membalasnya singkat dan segera memalingkan pandangan kearah
jalan raya. “memangnya kau pikir aku mau bicara denganmu! Dasar aneh!” pikir
Ree.
“aku
bukan orang aneh!” tiba-tiba saja lelaki itu bicara seolah mendengar apa yang
Ree pikirkan. Ree sangat terkejut dibuatnya. Ia
diam, dan tidak memikirkan apapun.
Ree tidak benar-benar menikmati perjalanannya.
Sikap lelaki yang duduk bersamanya membuatnya tidak nyaman. “terlalu sepi!”
Pikir Ree. Lelaki itu berpaling kearahnya dan membuat Ree kembali diam dan tak
berpikir. Meski sesungguhnya, ia ingin tau siapa lelaki aneh yang bisa membaca
pikirannya.
Bus sampai di Osaka tepat saat matahari
terbenam. Suasana pantai yang sangat indah dimata semua orang, tapi tidak
dengan Ree. Ia benci suasana ini. Memori musim panas dua tahun lalu masih belum
hilang. Kesedihan yang amat sangat. Ree masih belum bisa mengendalikan diri,
saat menghadapi suasana indah seperti ini. Ia akan tanpa sengaja menitikkan air
mata dan akhirnya menangis. Begitupun dengan musim panas ini. Ree segera berlari
memasuki hotel saat air matanya mulai terasa di pelupuk matanya. Ui melihatnya
dan tak tau harus berbuat apa. Ia sangat ingin membantu sahabatnya itu
melupakan kesedihannya itu. Tapi ia sendiri tau, kesedihan karena kehilangan
seseoarng yang dicintai, tidaklah mudah untukk dilupakan.
“Ree,
gomen ne, aku memaksamu ikut tour kali ini!” Ui duduk disamping Ree dan
merangkulnya yang sedang menangis. Ree tidak menjawab dan Ui pun tidak
berbicara lagi. Hanya keheningan yang menyelimuti kamar mereka.
Esok paginya, Ree dan Ui mengikuti kegiatan
membersihakan pantai yang di programkan ketua fakultas. Kegiatan ini sedikit
membuat Ree melupakan kesedihannya tadi malam.
“oii,,kerja
yang benar!” Keana berteriak membentak Jyuni yang menjatuhkan tong sampah yang
seharusnya dibawa Keana. Jyuni tidak bisa menolak perintah Keana. Beasiswa
Jyuni adalah pemberian dari ayah Keana.
“Kean,
harusnya kau kerjakan itu sendiri! Itu tugasmu!” Ui yang tidak bisa melihat
Jyuni dibentak menegur Keana.
“hah?
Siapa kau ikut campur urusanku?” Keana balik membantak Ui, dan
mengolok-oloknya. Baru saja Ui akan menampar Keana,tapi Ree mencegahnya.
“Ui,
dame desu!” Ree menarik Ui menjauhi Keana dan teman-temannya. Kean melihatnya
dan semakin mengolok-olok Ui.
“Kean,
lakukan saja tugasmu, dan jangan terlalu banyak bicara!” Ui berteriak pada Kean
yang membuat Kean sangat membenci Ui dan Ree pada akhirnya.
“Nani?”
Ree bertanya saat Ui menatapnya tajam.
“kenapa
melarangku? Harusnya perempuan itu kuhajar, Ree!” Ui bicara dengan nada kesal.
Ree tertawa mendengar kata-kata Ui.
“kau
tidak harus menghajarnya sekarang, ada saatnya Ui!” Ree tersenyum menjawab
pertanyaan bodoh Ui. Itu senyum pertamanya sejak tour dimulai. Dan seseorang
memperhatikan itu, dan mulai mengguminya.
“oii,
Kaze! Bantu kami mengangkat ini!” Sano berteriak memanggil Kaze yang sedang
memperhatikan seorang gadis yang sepertinya pernah ia lihat.
“hai!”
Kaze menjawab panggilan Sano dan berlari kerarahnya. “siapa Gadis itu? aku
merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat!” batin Kaze.
“Ree,
kau melihat apa?” Ui memperhatikan Ree yang antusias melihat sesuatu. Ui
mengarahkan pandangannya searah dengan Ree.
“dare
desu ka?” Ree menunjuk laki-laki yang duduk bersamanya di bus kemarin. Ui
melihat ke arah yang ditunjukkan Ree.
“anohito
Kaze desu! Doushite?” Ui merasa sedikit heran.
“apa
dia bisa membaca pikiran seseorang?” Ree bertanya dengna polosnya. Membuat Ui
menertawakannya.
“Baka!
Masaka!” Ui tertawa karena kata-kata Ree.
Ree menatap Ui kesal dan segera pergi
meninggalkan sahabatnya yang masih saja menertawainya.
Senja kembali datang. Ui menghilang entah
kemana. Ree yakin Ui sedang bersama Nakatsu. Ree berusaha tidak menangis saat
duduk di pinggir pantai itu sedirian. Keadaannya saat ini mengingatkannya pada
Yugi. Pacar Ree yang meninggal karena tenggelam di pantai saat musim panas dua
tahun lalu. Sejak saat itu, Ree trauma melihat seseorang berenang dipantai.
Untung saja pantai tempat Ree duduk saat ini sepi. Karena itu, ia sedikit
melupakan traumanya. Tapi suasana pantai inilah yang tidak bisa hilang dari
memori Ree. Ia melihat matahari tenggelam dan juga Yugi yang ikut tenggelam
bersamanya. Meski berusaha sangat keras, tapi Ree kembali menangis.
“andai
saat itu, kau mendengar ucapanku, kau masih akan duduk bersamaku senja ini!” gumam Ree. Air matanya semakin
deras, dan membentuk kabut yang menghalangi pandangannya. Samar-samar
dilihatnya seseorang berjalan ke bibir pantai. Ree terdiam. Trauma menguasai
pikirannya. Ia berteriak seperti orang gila. Ia berusaha memanggil orang yang
tak dikenalnya itu. Tapi suaranya tak didengar. Ree semakin bertingkah seperti
orang gila. Ia terus berteriak dan menangis semakin keras. Tanpa ia sadari,
kakinya melangkah dan berlari kearah orang itu. Dipikirannya saat ini, orang
itu adalah Yugi.
“tolong
jangan berenang!” teriak Ree saat kakinya tersentuh deburan ombak. Lelaki itu
menoleh kerahnya. Dan Ree jatuh berlutut saat lelaki itu berjalan kearahnya.
Pakaiannya basah karena ombak. Ia kembali menangis.
“tolong
jangan berenang! Kumohom jangan berenang!” katanya lirih. Lelaki itu
mendekatinya dan berlutut didepanya.
“daijobu
desu ka?” ucapnya menatap Ree. Kabut di mata Ree mulai berkurang. Ia semakin
jelas melihat siapa lelaki di depannya. Lelaki itu bukan Yugi, melainkan Kaze.
Ree bergegas berdiri dan berlari menjauhi Kaze.
“doushite?”
Kaze menghampiri Ree yang duduk di atas sebuah karang besar dipinggir pantai.
Ia melihat air mata menetes dari mata Ree.
“sumimasen,
apa aku menyakitimu? Gomen ne!” Kaze panik melihat Ree kembali menangis. Kaze
sangat sensitiv dengan gadis yang menangis didekatnya. Ia akan merasa telah
melakukan kesalahan pada gadis itu.
“gomen,gomen,,gomen,,!”
hanya itu yang keluar dari mulut Ree. Ia tidak tau harus bicara apa. Kaze pun
ikut diam dan duduk disamping Ree, tertunduk.
Ree berjalan ditemani Kaze menuju hotel. Ui dan
Nakatsu melihatnya basah dan menghampirinya.
“Ree,
daijobu desu ka?”Ui panik melihat Ree basah dan matanya sembab. Ia melihat
kerah Kaze. “kenapa dia?” kata Ui menatap Kaze tajam. Kaze menggeleng dan
segera meminta Nakatsu memapah Ree. Ia lalu pergi.
Malam ini kamar Ree dan Ui kembali lengang. Ui
ikut menangis saat Ree menceritakan kejadian dipantai tadi. Memori Yugi yang
terulang dalam diri Kaze membuat Ree tanpa sadar mencegahnya berenang. Ree
hampir tidak bisa tidur hingga pagi hampir menjelang.
Hari ini semua orang bebas dengan kegiatan
masing-masing. Ree menolak untuk ikut dengan Ui dan Nakatsu berjalan-jalan. Ree
berdiam diri dikamarnya.
“segera
hubungi aku kalau terjadi sesuatu!” Ui mengingatkan Ree. Ree mengangguk.
Terik matahari segera saja membuat Ree bosan
duduk sendiri dikamarnya. Ia keluar berjalan-jalan di pantai. Meskipun kejadian
tadi malam membuatnya semakin sakit, tapi Ree bertekad untuk menjadi lebih
kuat.
“daijobu
desu ka?” tiba-tiba saja Kaze berjalan dibelakangnya. Ree mengangguk enggan
bicara.
“Yokatta!”
“kenapa
kau berenang disore hari seperti itu?” Ree melihat kearah Kaze sekilas.
“aku
biasa berenang disore hari seperti itu! doushite?” Kaze menjawab pertanyaan
Ree. Ini pertama kalinya ia bicara kebiasaannya dengan orang yang baru
dikenalnya. Tapi ia justru merasa nyaman.
“gomen
ne! Aku membuatmu khawatir kemarin!” Ree berjalan semabari menoleh dan
tersenyum pada Kaze. Senyuman yang kedua yang dilihat Kaze dari Ree.
“hai!
Aku tidak akan tanya kenapa kau seperti itu!” kata Kaze balas tersenyum pada
Ree. Mereka berdua berjalan berdampingan dan keduanya mulai meraskan sesuatu
yang aneh.
“sumimasen,
apa aku boleh bertanya satu hal padamu?” tanya Ree sembari duduk diatas pasir
pantai yang membentang.
“nani?”
“apa
kau bisa membaca pikiran seseorang?”
“watashi?
Tentu saja tidak! Doushite?”
“kenapa
kau bilang dirimu bukan orang aneh saat di bus kemarin!
“ah? Jadi itu
kau? Hahaha itu, aku hanya merasa kau menganggapku seperti orang aneh saat
bicara seperti itu! jadi aku bilang begitu!”
“ahh, so ka!
Kupikir kau bisa baca pikiran orang!”
“jadi kau pikir
aku aneh?”
“ Iie, gomen aku
tidak bermaksud begitu, gomenasai!”
“hahaha,daijobu!”
kata Kaze tersenyum melihat ekspresi Ree yang merasa bersalah.
“sebenarnya, aku
juga orang yang aneh!” Ree tiba-tiba merasa nyaman berbicara dengan Kaze. Ia
tidak berpikir Kaze adalah orang yang sangat pendiam seperti yang dikatakan Ui.
“ah?”
“aku trauma
melihat orang berenang di pantai, terutama sore hari seperti kemarin!”
“doushite?”
“dua tahun yang
lalu pacarku tenggelam dipantai saat sore hari! Aku berusaha melarangnya, tapi
ia tidak mendengarku! Dan saat matahari terbenam, ia tak juga kembali!”
“ah,,gomen ne!
Aku tidak tau kau punya trauma seperti itu!”
“daijobu! Aku
sudah lebih baik sekarang!”
Mereka duduk memandangi laut yang diterangi
matahari siang. Meski musim panas kali ini sangat panas, tapi Entah es dari
mana yang datang menyejukkan hati Ree. Mungkinkah angin yang datang dari tubuh
Kaze yang telah menyejukkan hatinya saat ini? Ree tidak tau. Ia hanya merasa
nyaman. Itu saja.
Hingga sore mereka masih duduk dan berbincang
ditempat yang sama. Kini Ree tanpa sadar akan tertawa lepas saat Kaze
menceritakan kejadian-kejadian lucu yang dialaminya. Kaze pun tidak lagi
menjadi Kaze yang pendiam seperti yang dikatakan orang-orang. Sekarang
dihadapan Ree, ia adalah Kaze yang ceria dan menyengangkan. Ia merasa inilah
dirinya yang sesungguhnya. Tertawa saat ia ingin tertawa, bicara saat ia ingin
bicara. Dan tidak perlu merasa aneh akan perasaan tertekan yang selama ini
dirasakannya jika orang mengatakan ia seorang lelaki pendiam yang aneh. Di
matanya Ree adalah gadis yang pertama kali membuatnya menjadi orang lain, namun
sangat dikenalnya. Mungkin saja ada bunga yang sedang mekar dihatinya musim
panas ini. Mungkin saja itu Cinta Musim Panasnya.
“bolehkah
aku berenang?” tiba-tiba Kaze meminta izin pada Ree. Ree ragu. Bayangan Yugi
datang sekilas. Ia merasa takut akan kehilangan Kaze, seperti ia kehilangan
Yugi.
“aku
ingin membuat traumamu hilang! Beri aku kesempatan Ree!” kata Kaze, “aku
berjanji aku akan kembali dengan selamat!” lanjutnya. Ree sangat bingung. Ia
tidak ingin kehilangan Kaze, tapi ia juga harus menghilangkan traumanya. Maka
ia mengangguk dan mempercayakan segalanya pada Kaze.
Ia menangis saat Kaze menghilang ditengah
deburan ombak. Ia sangat sangat takut. Kaze tak juga muncul dari dalam air. Air
matanya semakin deras mengalir. Ia tertunduk ketakutan. Tapi sesosok laki-laki
muncul diantara deburan ombak. Berjalan dengan langkah pasti menghampiri Ree.
“aku
kan sudah berjanji padamu! Aku tidak mungkin menghianati janjiku!” kata Kaze
memengang pundak Ree dan mengangkat wajahnya. Ree menatapnya dan memeluk Kaze.
“arigatou!
Karena kau sudah kembali!” Ree menangis didada Kaze. Kaze memelukanya. Inilah
Cinta musim panas yang diraskannya.
“aku
tidak akan membuatmu merasakan trauma seperti itu lagi! Aku janji!” kata Kaze.
Ree tersenyum dan tiba-tiba saja bibir mereka berdua bertemu dalam balutan
kasih sayang.
Musim panas di Osaka sangat panas. Tapi hati
mereka berdua terasa sejuk saat cinta mereka bertemu didepan deburan ombak dan
ditatap langsung oleh Sunset yang bersinar keemasan. Cinta Musim panas yang
menyatukan keduanya. Mengubah segalanya menjadi indah. Kaze tidak hilang
bersama Matahari terbenam, tapi ia kembali untuk merangkul Ree kedalam Summer
Love yang dulu pernah dirasakannya. Sangat indah!!!!
~~~THE END~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar