ALUNAN SEBUAH LAGU
Menerima keadaanku yang seperti ini
adalah hal yang sangat sulit. Kehilangan sebelah lenganku. Ya,aku masih belum
bisa menerima kenyataan bahwa aku
kehilangan bagian tubuhku yang penting. Lengan kananku. Yang bagi semua
orang,tentu saja,bagi semua orang adalah bagian tubuh penting. Bagaimana
tidak,lengan kanan ini memberiku kehidupan. Bagaimana aku akan menciptakan
musikku jika tanpa lengan kananku. Lalu, aku tak akan bisa bermain dengan
gitarku lagi? Apa aku harus meninggalkanku musik yang selama 10 tahun ini hidup
denganku? Jawabannya TIDAK. Tentu saja aku tidak tidak menyerah dengan keadaan.
Bethoven saja bisa menikmati musik dan hidup bahagia bersama musiknya meskipun
ia tak bisa mendengarkannya. Dan aku? Aku masih bisa mendengarnya,bahkan
mungkin suatu saat aku masih bisa memainkannya. Aku yakin suatu saat nanti. Aku
tak bisa begitu saja menghancurkan
mimpiku sendiri. Aku tak mungkin membiarkan mimpi ibuku hanyut begitu saja oleh
waktu. Ya,mimpi seorang ibu yang sangat aku sayangi,meski waktu telah
membawanya pergi bersamanya. Aku akan mewujudkan mimpi Sang Violist
tercintaku,membuat konser tunggalku,dengan membawakan lagu-lagunya. Aku akan
melanjutkan hidupku bersama Gitarku. Aku tak akan membuatnya membusuk di dalam
karena tak mampu untuk ku tunjukkan pada dunia. Aku akan melakukannya.
Untukku,Ibuku,dan Kak Yudha.
Di rumah sederhana yang tak begitu
besar ini aku menikmati hidupku bersama “Gitaa”,nama gitar kesayanganku. Rumah
yang terletak tak jauh dari sungai yang memberikan aroma segar setiap paginya.
Sudah hampir 7 tahun sejak meninggalnya ibuku,aku dan kak Yudha pindah dari
rumah lamaku. Kami tinggal dirumah yang baru hingga kak Yudha menyelesaikan
kuliahnya dan mulai merintis kariernya di Jepang. Hidup tanpa ibu dan ayah,membuatku
dan kak Yudha terbiasa dengan kehidupan yang keras. Tapi dimataku kak yudha tak
pernah menyerah,dan pada akhirnya mimpinya menjadi seorang penyanyi menjadi
nyata. Jepang memberinya kesempatan menjadi seorang superstar dimataku. Tapi
itu tak berlangsung lama. Kesalahan transfusi darah membuatnya harus hidup
bersama HIV disisa hidupnya. Sejak saat itu tiba,aku berpikir,aku harus mulai
menjadi diriku dan menjalani hidup sendiri. Kak Yudha hanya mampu bertahan 8
bulan. Dan akhirnya ia meninggalkan aku kembali
menemui ibuku. Aku kembali ke Indonesia dan menguburkan jenazah kak Yudha di samping
makan Ibuku. Aku tak berniat untuk tinggal ataupun kembali ke Jepang. Aku
memilih untuk menikmati sisa hidupku di Korea. Setidaknya itu yang pernah jadi
mimpiku. Dan disinilah aku,dirumah kecil yang nyaman,bersama “Gitaa”,gitarku.
Sore yang cerah. Tapi cuaca sedikit
mencekik tenggorokanku. Pantulan sinar matahari menyilaukan mataku. Bel rumahku
berbunyi saat,aku menikmati suasana sore itu. Ku layangkan pandangan,dan
terlihat seorang tukang pos berdiri di depan pintu rumahku. Aku bergegas
menemuinya.
“Permisi nona,ada paket untuk
anda.”kata tukang pos itu lalu menyerahkan sebuah amplop surat padaku. Aku
menerimanya dan ia pergi setelah memintaku mengisi tanda terima. Aku membawanya
masuk dan membaca isinya.
Yth
Lee Na Ra
…dengan sangat menyesal kami memberitahukan kepada
anda,bahwa kontrak dengan anda kami batalkan dengan alasan keadaan anda yang
tidak lagi memungkinkan untuk bermusik…
Kira-kira
seperti itulah isi surat yang ditulis dalam bahasa korea itu. Aku terkejut dan
tak mampu berpikir apapun. Hey,tentu saja aku marah,aku kecewa. Kecewa pada
perusahaan rekaman itu,dan juga pada diriku sendiri. Kubuang surat itu di
tempat sampah dan menyambar gitarku lalu pergi keluar rumah. Aku berlari
tertunduk,dan aku menangis. Aku bingung. Mimpiku lagi-lagi hancur karena
keadaanku. Aku berlari tertunduk tak mau orang melihatku dan menyangka aku ini
gadis gila.
Aku berteriak sekencang-kencangnya
saat tiba di pinggir sungai dekat rumahku. Aku tak perduli orang akan
berpikiran buruk tentangku. Tenggorokanku sakit,dan aku juga tak perduli dengan
itu. Aku tak mau tau apakah ada orang lain yang terganggu karena teriakanku.
Aku bahkan berpikir,jika ada orang lain yang datang dan marah padaku,aku pasti
akan berterima kasih,karena aku akan melampiaskan marahku padanya. Kurasa aku
ingin makan orang saat ini. Arghhh…
“hey nona,bisakah anda kecilkan
volume suara anda?”kata seseorang,seperti suara lelaki,”aku sedang
tidur.”lanjutnya.
“hey,tuan,apa kau pikir ini
rumahmu,hahhh!”bentakku tanpa menoleh ke arahnya. “aku sedang dalam suasana
hati yang buruk!”teriakku lagi.
“kya,,kau pikir aku sedang dalam
suasana hati yang baik,hahh!”teriaknya marah. Kali ini membuatku menoleh
kearahnya. Aku menatapnya nanar.
“lalu apa maumu?membunuhku karena
aku berteriak?”bentakku,”lakukanlah!”teriakku semakin marah.
“nona,jika kau dalam suasana hati
yang buruk,kenapa kau tidak menceburkan diri ke sungai itu!”teriaknya sama
marahnya denganku. Kurasa kami sedang dalam suasana hati yang sama-sama buruk.
“baiklah.”sahutku lemah. Apa? Apa
yang aku pikirkan. Benarkah aku akan membuang diriku ke aliran sungai
itu,sementara aku tak bisa berenang? Kakiku terus saja melangkah. Pikiranku
kosong dan kakiku semakin dekat dengan tepian sungai. Tubuhku teras melayang
dan seketika terjatuh diatas aliran air dan tenggelam. Aku seperti bisa
bernafas di dalam air. Apa aku benar-benar ada di dalam air?entahlah. Tiba-tiba
kurasakan sesuatu terjatuh ke air dan menuju kearahku. Apa itu malaikat maut
yang akan membawaku menemui ibu dan kak Yudha? Bukan,itu manusia. Mataku
terpejam pasrah atau apalah. Orang itu menarik tanganku dan aku tersadar. Aku
mengap-mengap tak bisa bernafas. Ia membawaku ke permukaan dan menarikku ke
tepi.
Tangisku kembali pecah. Aku berkata
lirih pada diriku sendiri. Kulihat lelaki itu duduk di sampingku.
“eomma,,mianhae”ucapku lirih. (arti :ibu maafkan aku). Beberapa lama aku
termenung sendiri. Kurasa aku semakin membaik. Ku lihat ia masih disampingku.
Tatapannya jauh,dan kosong.
“kamshamnida.”ucapku berterima kasih
padanya. Meski tatapannya kosong,kurasa aku mendengarnya membalasku.
‘seandainya saja aku seorang
perempuan,mungkin aku juga akan menangis.”sahutnya pelan. Kami terdiam dalam
keheningan masing-masing. Menikmati setiap keindahan sore yang semakin indah
meskipun masalah semakin menekan batinku.
“hey,apa kau ini gila hahh!”ucapnya
memecah keheningan. “kenapa kau melakukan hal yang aku katakana.”lanjutnya.
“kya,kau ini,,arghh!”sahutku bingung
harus menjawab apa. “kau pikir seseorang
dengan masalah sepertiku akan berpikiran jernih saat orang sepertimu memintaku
melakukan hal bodoh!”sahutku ketus.
“bahkan jika aku memintamu melakukan
hal bodoh?”sahutnya.
“ne,waeyo?”sahutku ketus. (arti : ya
kenapa?) ia tersenyum membuatku ingin menendangnya.
“hhahah,mianhae!”sahutnya singkat
sembari tersenyum. Ia mengulurkan tangannyapadaku. Apa ia ingin kami
berkenalan?
“Park Hyun Joo.”sahutnya. Aku
mengulurkan tanganku.
“Lee Na Ra.”sahutku lalu melepaskan
genggamannya.
Kami terlibat percakapan yang sukup
lama. Hyun Joo ternyata adalah mahasiswa tingkat akhir di universitas
Seoul,jurusan Seni Musik. Pantas saja pembicaraan kami menyenagkan. Ia seorang
pemain piano dan juga vocalis band di kampusnya. Pada akhirnya aku menceritakan
masalahku padanya. Ia menghiburku dan mengatakan akan membantuku menemukan
seseorang yang bisa membantuku bermain gitar dengan tangan kiriku,dan tangan
palsuku. Tak terasa sang surya mulai merangkak menuju peraduannya,memantulkan
semburat orange diatas riaknya air sungia yang mengalir. Kami berpisah setelah
bertukar nomor ponsel.
Dirumah kubiarkan tubuhku terendam
di air hangat,sangat nyaman setelah kejadian menceburkan diri di air sungai. Aku
menertawakan diriku mengingat kejadian tadi aku merasakan tubuhku dikendalikan
jiwa yang lain. “hahh,,Lee Na Ra,kau ini terlalu banyak menonton film
fantasy.”batinku.
Kunikmati susu hangat yang sengaja
kubuat. Udara Seoul semakin mengerikan saja. Dengan hanay berbalut piyama
tidur,akumenikmati suasana malam ini. Memikirkan hari ini yang penuh kejadian
unik. Masalah datang bersamaan dengan itu aku bertemu teman tempatku berbagi
cerita. Kuraih gitar kesayanganku dan memeluknya menikmati kebersamaan kami
selama 5 tahun ini. Ponselku bergetar membuyarkan lamunanku. Ternyata pesan.
Hyun Joo : Lee Na Ra,apa kau sudah
tidur?
Aku : waeyo Hyun Joo-ssi? (arti :
kenapa)
Hyun Joo : anniyo,aku hanya ingin
tahu.(arti : tidak)
Aku : aku baru saja selesai membersihkan
tubuhku.
Hyun Joo : apa kau melakukannya
dengan baik? Ku lihat air sungai itu kotor
Aku : Ne,tentu saja,kau pikir aku
jorok.
Hyun Joo :
hahaha,baiklah,beristirahatlah
Aku : ne,kau juga.
Aku mengakhiri percakapan dengan
pesan singkat. Dasar laki-laki itu,membuatku merasa tidak jelas. Hatiku menjadi
tak mampu ku baca. Menyebalkan. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah
bagaimana menunjukkan pada perusahaan yang menolakku,bahwa aku bisa menciptakan
musikku sendiri,meskipun keadaanku seperti ini.
Ring ding dong,suara ponselku
membangunkanku dari tidur lelapku. Tubuhku terasa sedikit pegal-pegal akibat
berlari kemarin. Terpaksa aku mengangkat telpon itu.
“halo?”ucapku. terdengar suara
laki-laki yang ku kenal. Ah,itu siuara Hyun Joo,si bodoh itu.
“kya,Na Ra-ah,bangunlah!kajja lari
pagi bersamaku.”sahutnya dari seberang.
“shiro!aku tidak mau!”sahutku ketus.
(arti :tidak mau)
“ kya,kalau kau tidak mau,aku makan
masuk dan menyeretmu keluar!”teriaknya dan mematikan panggilan.
“Kya,Hyun
Joo-ah,halo,halo..”teriakku pada angin. Menyebalkan sekali laki-laki itu.
Membangunkan aku yang sedang asik tidur. Sial,aku khawatir ia akan memaksa
masuk ke dalam rumahku jika aku tidak segera keluar. Aku bergegas mempersiapkan
diriku dan menemuinya di luar. Ku lihat ia duduk di depan pintu
gerbangku,menggunakan celana pendek dan t-shirt pendek. Cukup tampan dimataku.
Aku hanya menggunakan celana panjang dan jaket,aku tak mau mati kedinginan.
“kajja,palli,sebentar lagi matahari
muncul.”ucapnya menarik tangan kiriku dan berlari sedikit menyeretku. Seandainya
saja ia melepaskan genggamannyadari tanganku,mungkin aku tkan tertidur di
jalanan ini. (arti: ayo cepat)
“Hyun Joo-ah,kajja,berhentilah
sebentar!”ucapku melepaskan tanganku dari genggamannya. Kami berhenti dan duduk
di pinggir sebuah kolam. Aku duduk dan Hyun Joo memberiku sebotol air yang
telah dibelinya.
“aku akan membantumu bermain gitar
lagi.”kata Hyun Joo membuatku tersedak.
“ehh,maksudmu?”sahutku bingung.
“ kau bilang ingin bermain musik
lagi? Aku akan membantumu.”sahutnya. Kini aku benar-benar bingung dibuatnya.
“benarkah?jeongmal yo?”sahutku ingin
tau.(arti : benarkah)
“ehm!”sahutnya memengangguk
mengiyakan.
“tapi,bagaimana bisa?”jawabku. ia
hanya tersenyum. Aku tak memaksanya menjawab pertanyaanku.kuarasa itu rahasia.
Hampir dua minggu sudah aku belajar
bermain gitar dengan lengan kiri dn lengan palsuku,bersama Hyun Joo. Aku mulai
sedikit mahir. Kurasa tak akan memakan waktu yang lama untuk menguasainya.aku
hanya perlu untuk terus melatihnya. Aku tak akan kehilangan semangatku lagi.
Tidak akan!
Meski terlihat aneh,tapi aku mulai
menikmatinya. Dua bulan sudah aku tak bertemu Hyun Joo lagi. Ia sibuk
mempersiapkan ujian akhirnya. Aku berlatih sendiri tanpanya. Aku merindukan
saat dimana Hyun Joo akan memainkan piano untuk menemaniku berlatih bersama
“gitaa”. Aku semakin mahir dan beberapa lagu telah kubuat. Aku hanya perlu
menunggu beberapa saat sampai segalanya menjadi nyata. Tapi sampai aku siap,hampir
satu tahun sudah aku tak bertemu Hyun Joo lagi. Aku sungguh merindukan
suaranya. Ia tak pernah membalas pesanku ataupun menerima teleponku. Aku
merindukan Hyun Joo,si bodoh itu. Ia seperti menghilang di telan bumi.
Aku mulai memberanikan diri untuk
mengirim lagu ke beberapa perusahaan rekaman. Aku berharap kali ini tak ada
halangan lagi. Aku menunggu kabar dari perusahaan-perusahaan rekaman itu. Aku duduk di pinggiran sungai
tempat biasa aku menghabiskan waktu saat aku sedih ataupun senang. Hyun Joo,aku
ingin bertemu dengannya,tapi itu tak mungkin saat ini. Tapi ternyata mimpiku
hanya benar-benar mimpi. Tak satupun dari perusahaan itu menerima karyaku.aku
kecewa. Sangat marah.
“Hyun Joo-ah,aku merindukanmu,aku
ingin kau menghiburku.”ucapku lirih. aku menyanyikan sebuah lagu yang ku
ciptakan untuk Hyun Joo. Aku menangis. Gitarku bergetar karena tubuhku
menangis. Tiba-tiba seseorang menghentikan nyanyianku.
“kau benar-benar menguasainya,Lee Na
Ra!”ucapnya mantap. Aku menoleh kearah suara itu. Itu Hyun Joo,lelaki bodoh
yang membuatku merasakan hatiku berbeda setelah lima tahun hidup sendiri. Aku
menghamburke arahnya. Aku memeluknya. Aku menangis dipelukannya.
“kya,Hyun Joo,kau ini,,”aku terisak.
Ia memelukku erat.
Ia
meminta maaf karena meninggalkan aku tanpa kabar. Aku menceritakan masalahku
padanya dan dia mendengarkan. Aku terkejut ternyata perusahaan- perusahaan itu
menolakku karena permintaan Hyun Joo. Ia yang ternyata akan menerimaku masuk
perusahaannya. Ia yang akan menerimaku bermain musik. Aku bahagia.
“Hyun Joo-ah,gomawo.”ucapku
berterima kasih dan memeluknya. Ia memelukku.
“Ne,ayo kita buat konser untuk
mimpimu,konser yang hebat”sahutnya.
Aku hanya bisa tersenyum.terima
kasih Hyun Joo. Kami berjalan menyusuri tepian sungai,sembari bernyanyi. Ia menggandeng
tangan kiriku dan membawakan “Gitaa” untukku. Park Hyun Joo,aku Lee Na Ra,yang
membuatmu bahagia. Aku berjanji memberimu alunan lagu-lagu indah yang akan
menemani hidupmu,Park Hyun Joo.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar